PAPUA TIDAK DIKUTUK UNTUK TERUS MENELAN DERITA. - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :

.

.
Home » , , » PAPUA TIDAK DIKUTUK UNTUK TERUS MENELAN DERITA.

PAPUA TIDAK DIKUTUK UNTUK TERUS MENELAN DERITA.

Written By Suara Wiyaimana Papua on Selasa, 06 Oktober 2026 | Selasa, Oktober 06, 2026


PAPUA TIDAK DIKUTUK UNTUK TERUS MENELAN DERITA. 

Papua tidak dikutuk untuk terus menelan derita.

Kalimat itu harus kita ukir di setiap pintu honai, di setiap kos mahasiswa Yahukimo yang atapnya bocor di Manokwari, di setiap kebun sagu di Modan yang kini dipatok perusahaan.

Selama ini kita dibius dengan satu kata: takdir.

Ketika kontrakan mahasiswa Yahukimo 15 bulan tidak dibayar, dibilang takdir. Ketika hutan adat dijual dengan SKT palsu, dibilang rencana Tuhan. Ketika mama-mama harus antre beras dengan kardus buku, disuruh sabar.

Padahal takdir adalah kata yang dipakai oleh penjajah untuk menidurkan yang dijajah.

Hegemoni Takdir

Seorang filsuf Italia, Antonio Gramsci, pernah menulis dari dalam penjara: Penjajah paling cerdas tidak butuh senjata setiap hari. Cukup buat yang dijajah percaya bahwa penderitaannya adalah takdir. Begitu dia percaya itu takdir, dia tidak akan melawan. Dia akan berdoa agar deritanya diberkati.

Itulah yang terjadi di Papua.

Pembunuhan paling kejam bukan yang memakai senapan. Pembunuhan paling kejam adalah pembunuhan nalar rasional. Dibuat takut lapar, sehingga tunduk minta makan pada penguasa dengan mental budak.

Lihat: Bangga dapat bansos, bangga foto dengan Bupati, bangga jadi pengemis di atas tanah emasnya sendiri. Itu bukan kebanggaan. Itu mental miskin yang diciptakan.

Manusia merdeka tidak minta makan pada penguasa. Manusia merdeka menanam sagunya sendiri, menjaga hutannya sendiri.

Politik Panoptikon: Penjara Tanpa Dinding

Filsuf Prancis, Michel Foucault, menyebutnya Panoptikon. Sebuah penjara di mana tahanan merasa selalu diawasi, sehingga akhirnya dia mengawasi dirinya sendiri.

Di Papua, panoptikon itu hidup.

Mahasiswa Yahukimo mau kritik Bupati soal asrama yang tidak layak, tapi takut beasiswa dicabut. Itu panoptikon.

Pendeta di Sorong mau khotbah tentang hutan Modan yang dijual untuk food estate, tapi takut dana gereja diputus. Itu panoptikon.

Kepala suku mau tolak tambang, tapi takut dicap separatis. Itu panoptikon.

Mereka tidak perlu kirim tentara ke setiap kos mahasiswa. Cukup tanamkan rasa takut di kepala. Akhirnya kita bungkam diri kita sendiri. Kita sensor pikiran kita sendiri sebelum penguasa melarang.

Yang menginginkan penderitaan itu tetap ada adalah manusia yang malas berpikir. Manusia yang melihat penderitaan Papua dan bilang "ini rencana Tuhan" adalah kaki tangan penjajah paling setia. Karena dengan kata "takdir" itu, dia melanggengkan penjajahan tanpa perlu dibayar.

Tuhan di Kebun Sagu, Tuhan di kebun ubi

Tuhan yang saya kenal di kebun sagu Modan bukan Tuhan yang merencanakan agar anak Yahukimo tidur dengan kardus buku di kepala. Tuhan yang kami kenal adalah Energi yang menghidupkan, yang memberi keadilan, kejujuran, kasih sayang.

Yang merencanakan penderitaan itu bukan Tuhan. Itu adalah rencana busuk kekuasaan yang sudah mati dan membusuk, yang seharusnya dihinggapi semut dan lalat kritik sebagai tanda kematiannya.

*Kesimpulan*

Papua tidak dikutuk. Papua dikurung oleh hegemoni takdir.

Tugas pertama pembebasan bukan merebut senjata, tapi merebut kembali nalar rasional yang dibunuh oleh politik panoptikon.

Caranya? Kritik.

Ketika kita berani bilang "ini bukan takdir, ini penindasan", maka rantai hegemoni itu putus. Ketika kita berhenti tunduk minta makan dengan mental budak, dan mulai menanam sagu dan menulis kritik kita sendiri, maka panoptikon itu hancur.

Papua tidak akan merdeka karena belas kasihan Jakarta. Papua akan merdeka ketika manusia Papua berhenti percaya bahwa deritanya adalah takdir.

Penulis adalah pecinta petualangan 

Oleh: Ones Nesta Epikuros Suhuniap 

Tanah Moi Modan_

Share this article :

0 komentar:

.

.

Pray For West Papua

Pray For West Papua

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA