ASRAMA MAHASISWA SEBAGAI JANTUNG PERLAWANAN: KERJA 24 JAM UNTUK PAPUA MERDEKA - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :

.

.
Home » , , , » ASRAMA MAHASISWA SEBAGAI JANTUNG PERLAWANAN: KERJA 24 JAM UNTUK PAPUA MERDEKA

ASRAMA MAHASISWA SEBAGAI JANTUNG PERLAWANAN: KERJA 24 JAM UNTUK PAPUA MERDEKA

Written By Suara Wiyaimana Papua on Senin, 25 Mei 2026 | Senin, Mei 25, 2026


ASRAMA MAHASISWA SEBAGAI JANTUNG PERLAWANAN: KERJA 24 JAM UNTUK PAPUA MERDEKA 

Saya pernah menjadi mahasiswa. Saya juga pernah menjadi aktivis Papua Merdeka. Dua identitas itu tidak pernah terpisah dalam tubuh dan pikiran saya. Kampus memberi saya ilmu, jalanan dan asrama memberi saya medan tempur. Dari sanalah kami memulai kerja yang tidak mengenal jam tidur.

Asrama mahasiswa bukan sekadar tempat menaruh badan setelah kuliah. Asrama adalah markas. Di sana kami bangun jam 4 subuh untuk menulis rilis, jam 6 pagi briefing, jam 9 malam evaluasi, jam 12 malam live di media sosial. Siklus itu berputar 24 jam tiap hari. Tidak ada hari libur untuk bangsa yang sedang dijajah. Dari asrama Ke asrama, Dari kamar ke kamar, dari lantai ke lantai, asrama kami ubah menjadi pusat produksi kesadaran. Poster ditempel, buku dibedah, video diedit, narasi disusun. Semua orang punya peran. Yang bisa menulis, menulis. Yang bisa bicara, bicara. Yang bisa mengorganisir, mengorganisir.

Hasilnya nyata. Kami menjadi penguasa media sosial di Pasifik, Asia, Afrika dan Eropa. Kami tidak menunggu media arus utama meliput. Kami adalah media itu sendiri. Kami bangun jaringan dengan mahasiswa Melanesia, dengan aktivis Afrika yang paham kolonialisme, dengan kelompok solidaritas di Eropa yang muak dengan kapitalisme ekstraktif. Kami yakinkan masyarakat internasional bahwa Papua bukan isu pinggiran. Papua adalah ujian bagi kemanusiaan. Foto, kesaksian, data, sejarah kami dorong setiap jam ke timeline dunia. Algoritma boleh berubah, tapi kami lebih konsisten dari algoritma.

Konsistensi itu membuat kolonialisme panik. Kepanikan penguasa selalu mahal harganya. Waktu itu kolonial berutang ribuan triliun ke bank internasional. Utang bukan untuk sejahterakan rakyat. Utang itu untuk operasi meredam Papua Merdeka. Triliunan rupiah dibakar untuk membeli diam, untuk membayar buzzer, untuk membelah organisasi, untuk menciptakan konflik horizontal di antara sesama anak Papua. Strategi pecah belah adalah strategi klasik penjajah. Dan untuk periode itu mereka berhasil. Persatuan bangsa Papua retak. Isu Papua di forum internasional dilemahkan. Dukungan yang sudah kami bangun siang malam dihantam dengan uang dan propaganda.

Itu pelajaran paling pahit. Kita bisa menang di narasi, tapi bisa kalah jika persatuan jebol. Uang kolonial lebih cepat dari kesadaran rakyat jika rakyat tidak dijaga setiap hari. Dari situ saya percaya pada satu kesimpulan: tugas mahasiswa hari ini adalah merebut kembali asrama.

Asrama harus kembali menjadi sekolah politik, menjadi dapur ideologi, menjadi ruang komando. Lawan kita dua kepala dengan satu tubuh, yaitu kolonialisme dan kapitalisme. Kolonialisme merampas hak menentukan nasib sendiri. Kapitalisme merampas tanah, hutan, gunung, dan laut lalu mengubahnya menjadi angka di bursa saham. Dua-duanya membunuh manusia Papua secara pelan-pelan. Melawan keduanya tidak bisa dengan seminar sekali sebulan. Melawan keduanya butuh kerja 24 jam.

Usahakan 24 jam bicara Papua di semua asrama. Bukan berarti teriak tanpa isi. Bicara artinya belajar sejarah yang disembunyikan, bedah UU yang menindas, petakan perusahaan yang merusak, latihan orasi, latihan menulis, latihan keamanan digital. Bicara artinya produksi konten tiap hari. Satu asrama satu media. Satu kamar satu penulis. Satu lantai satu kameramen. Hubungkan asrama Papua di Jayapura dengan asrama di Makassar, di Yogyakarta, di Manado, di Ambon, di Port Moresby, di Suva, di London. Jadikan setiap asrama simpul dari jaring laba-laba yang tidak bisa diputus.

Usahakan 24 jam bicara Papua di semua media. Twitter, TikTok, Instagram, YouTube, podcast, website, selebaran. Jangan kasih jeda. Jika kita diam satu hari, kolonial kerja tiga shift untuk mengubur nama Papua. Dunia ini lupa dengan cepat. Tugas kita adalah mengingatkan dunia dengan lebih cepat lagi. Bangsa Papua ini bangsa manusia. Manusia punya hak untuk hidup bebas, berdiri di atas tanahnya sendiri, mengatur dirinya sendiri. Tidak ada kemerdekaan yang jatuh dari langit. Kemerdekaan direbut dengan kerja keras, disiplin, dan pengorbanan tiap hari.

Kolonial boleh punya ribuan triliun. Kita punya sesuatu yang tidak bisa dibeli, yaitu kebenaran dan kemauan. Asrama sudah membuktikan itu sekali. Asrama bisa membuktikannya lagi. Mulai malam ini, jangan biarkan satu jam pun lewat tanpa kerja untuk Papua. Kohaa.


Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan) 

Minahasa, 25 Mei 2026 || 02:15 WPB00

Share this article :

0 komentar:

.

.

Pray For West Papua

Pray For West Papua

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA