890 ORANG NOBAR FILM PESTA BABI: SIMBOL PERLAWANAN, POLITIK DAN RUANG HIDUP RAKYAT DAN BANGSA PAPUA - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :

.

.
Home » , , , , , » 890 ORANG NOBAR FILM PESTA BABI: SIMBOL PERLAWANAN, POLITIK DAN RUANG HIDUP RAKYAT DAN BANGSA PAPUA

890 ORANG NOBAR FILM PESTA BABI: SIMBOL PERLAWANAN, POLITIK DAN RUANG HIDUP RAKYAT DAN BANGSA PAPUA

Written By Suara Wiyaimana Papua on Senin, 25 Mei 2026 | Senin, Mei 25, 2026


890 ORANG NOBAR FILM PESTA BABI: SIMBOL PERLAWANAN, POLITIK DAN RUANG HIDUP RAKYAT DAN BANGSA PAPUA 

West Papua - Pada 20 Mei 2026, aula Graha Sara Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Argapura, Kota Jayapura, berubah menjadi ruang politik yang hidup. Lebih dari 890 orang berkumpul untuk nonton bareng film dokumenter _Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita_. Angka itu bukan sekadar statistik kehadiran. Ia adalah pesan, simbol perlawanan dan penegasan bahwa ruang hidup rakyat dan bangsa Papua sedang dipertaruhkan, dan rakyat memilih untuk tidak diam.

LAYAR SEBAGAI ARENA POLITIK 

Nobar _Pesta Babi_ bukan aktivitas hiburan. Ia adalah tindakan politik. Film berdurasi 1 jam 29 menit ini diproduksi WatchDoc, Greenpeace Indonesia, Jubi, Yayasan Bentala Pusaka, dan Ekspedisi Indonesia Baru. Isinya membedah konflik agraria, deforestasi, dan perampasan ruang hidup masyarakat adat di Papua Selatan akibat Proyek Strategis Nasional seperti Merauke Food Estate, ekspansi sawit, dan tebu bioetanol. 

Ketika negara menyebut tanah Papua sebagai “lahan kosong” untuk investasi, 890 orang di Jayapura hadir untuk membantah. Tubuh mereka yang memenuhi Graha Sara adalah bukti bahwa tanah itu berpenghuni, bertuan, dan bernyawa. Sebelumnya, nobar di beberapa kampus sempat dibubarkan aparat. Namun nobar di jantung Sinode GKI Tanah Papua justru berlangsung terbuka dan masif. Itu menunjukkan adanya aliansi baru: gereja, mahasiswa, pemuda adat, mama-mama, dan aktivis menjadikan film sebagai alat konsolidasi politik.

MAKNA "PESTA BABI" BAGI RUANG HIDUP 

Judul _Pesta Babi_ adalah kunci untuk memahami apa yang sedang hilang. Bagi suku Marind dan banyak masyarakat adat di Papua Selatan, babi bukan sekadar hewan. Ia adalah ukuran martabat, alat tukar, mas kawin, dan pusat dari setiap upacara adat. Pesta babi hanya bisa digelar jika hutan masih memberi sagu, jika dusun masih berbuah, jika sungai belum tercemar. 

Film ini menampilkan kesaksian lima Orang Asli Papua yang melihat tanah leluhurnya digusur ekskavator. Ketika hutan ditebang dan sagu diganti tebu, maka yang mati bukan hanya ekosistem. Yang mati adalah relasi sosial, sistem nilai, dan masa depan budaya. Karena itu, #PapuaBukanTanahKosong yang lahir dari rangkaian nobar sejak Jakarta 12 Mei hingga Jayapura 20 Mei adalah koreksi keras terhadap watak pembangunan. Seperti yang diserukan di nobar Jakarta: “Tanah Papua bukan tanah kosong. Tanah Toba juga bukan tanah kosong. Semua tempat kehidupan kita manusia.”

GEREJA, MORAL DAN LEGITIMASI PERLAWANAN 

Lokasi nobar ini penting. Graha Sara adalah milik Sinode GKI di Tanah Papua, gereja terbesar di Papua. Februari 2026, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia sudah menyatakan sikap resmi menolak PSN di Merauke. PGI menilai PSN mengabaikan hak dasar masyarakat adat atas tanah, wilayah, dan budaya Papua, serta bertentangan dengan keadilan sosial dan amanat konstitusi. Kepala Biro Papua PGI, Pendeta Ronald Richard Tapilatu, menyebut film _Pesta Babi_ menjelaskan alasan penolakan itu.

Artinya, 890 orang yang berkumpul di aula Sinode sedang berdiri di atas landasan teologis dan moral. Bagi rakyat Papua, tanah adalah mama. Pendeta Priyatno menyebut film ini sebagai “jeritan batin terdalam rakyat Papua”. Ketika mama dieksploitasi, anak-anaknya wajib membela. Maka nobar berubah menjadi liturgi perlawanan. Ia menjadi cara gereja berpihak pada yang tertindas dan menjaga ciptaan yang dipercayakan Tuhan.

MEMBONGKAR KOLONIALISME ZAMAN KITA 

Subjudul film ini tegas: _Kolonialisme di Zaman Kita_. Kolonialisme hari ini tidak datang dengan meriam. Ia datang dengan izin konsesi, dengan label “strategis nasional”, dan dengan narasi “kedaulatan pangan”. Namun dampaknya sama: pengusiran, pemiskinan, dan penghapusan identitas. Maruap Siahaan, peserta nobar di Jakarta, mengatakan bahwa membiarkan perampasan tanah terus terjadi sama dengan ikut melakukan kejahatan kemanusiaan.

890 orang di Jayapura memahami logika itu. Mereka menonton bukan untuk mengasihani, tetapi untuk bersolidaritas. Di Keerom pada 9 Mei, pemuda menegaskan “tanah bukan komoditas”. Di Majalengka 11 Mei, spanduk “Papua Bukan Tanah Kosong” dibentangkan. Di Jayapura, perlawanan itu disuarakan dari tanah Papua sendiri, oleh orang Papua sendiri, di rumah besar umat Papua sendiri.

Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak melarang nobar _Pesta Babi_. “Tonton saja, lalu gelar diskusi-debat!” ujarnya. Negara memberi ruang. Tapi 890 orang di Graha Sara sudah mengambil lebih dari sekadar ruang diskusi. Mereka sedang merebut narasi. Mereka sedang memproduksi kesadaran kolektif bahwa pembangunan tanpa persetujuan masyarakat adat adalah kekerasan.

Nobar 20 Mei 2026 adalah penanda babak baru perlawanan rakyat dan bangsa Papua. Ia bekerja melalui film, melalui gereja, melalui #tolakPSN, dan melalui keberanian 890 orang untuk hadir. Selama pesta babi terancam hilang dari kampung, selama tanah masih diklaim sebagai kosong, maka layar-layar akan terus menyala.  890 orang sudah bersaksi: Papua tidak kosong. Papua melawan. Ruang hidup Papua adalah hak yang tidak bisa ditawar.

Oleh: Emil E Wakei (Dewan Jalanan)

Kokoda, 22 Mei 2026 || 12:13 WPB00

Share this article :

0 komentar:

.

.

Pray For West Papua

Pray For West Papua

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA