Bayar Kepala Ibarat Lindungi Pelaku Pembunuhan di Sugapa - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » , » Bayar Kepala Ibarat Lindungi Pelaku Pembunuhan di Sugapa

Bayar Kepala Ibarat Lindungi Pelaku Pembunuhan di Sugapa

Written By Suara Wiyaimana Papua on Rabu, 07 September 2016 | Rabu, September 07, 2016

Tim investigasi kasus Sugapa dari MRP, Fransiskus Waine, Ciska Abugau, Debora Mote dan Fransiska Okmonggop Mote, Selasa (06/09/2016) – Jubi/Abeth You
Jayapura, Jubi – Pemerintah Kabupaten Intan Jaya menyatakan kasus tewasnya salah satu pelajar di Sugapa Otianus Sondegau akibat tembakan yang diduga dilakukan oknum Brimob telah diselesaikan dengan dibayarkannya uang kepala. Adapun pembayaran itu nilainya  sebesar Rp850 juta kepada keluarga duka yng ditanggung oleh Bupati Intan Jaya, Natalius Tabuni sebesar Rp750 juta dan Kapolda Papua, Irjen Pol. Pauus Waterpauw sebesar Rp. 100juta.

Hal itu diungkapkan tim investigasi dari Majelis Rakyat Papua (MRP) Fransiskus Waine yang belum lama ini  ke Sugapa.

“Kalau secara adat, sebenarnya kepala ganti kepala. Masyarakat meminta kuburan yang disiapkan itu dua kepala, yaitu penembak dan tertembak. Tetapi karena hukum di negeri ini harus ditegakkan, maka kami anggap uang itu bukan akhir dari penyelesaian kasus Sugapa,” kata Fransiskus Waine di kantor MRP, Kota Jayapura, Selasa (6/9/2016) didampingi Ciska Abugau, Debora Mote dan Fransiska Okmonggop Mote.

Dikatakan, pihaknya sebagai lembaga representatif kultur orang asli Papua (OAP) menyatakan Bupati Intan Jaya, Kapolres Paniai, Kapolsek Sugapa, Kapolda Papua dan DPRD Intan Jaya telah melindungi pelaku kekerasan. “Walaupun Bupati, Brimob dan Polisi sudah nyatakan masalah sudah selesai tapi MRP yang melindungi kultur orang asli Papua (MRP) belum selesai,” ujarnya.

“Bagaimanapun juga ini adalah nyawa manusia. Oleh sebab itu, pelaku harus diusut tuntas. Dan pelaku itu harus diserahkan kepada masyarakat supaya mereka menghukum dengan adat kalau pemerintah tidak mampu tegakan hukum pemerintah. Manusia tidak bisa dijual belikan walaupun sudah dibayar,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Bupati Intan Jaya harus bertanggungjawab karena Brimob yang didatangkan atas inisiatif Bupati sendiri. Pihaknya juga mempertanyakan hal itu, apakah tidak ada kepolisian sehingga datangkan Brimob. Dengan biaya yang cukup tinggi datangkan Brimob, sementara di Kabupaten Intan Jaya aman tenteram.

“Di pegunungan tengah Papua ini rata-rata kita menolak kehadiran Brimob. Sudah dianiaya, dipukul-pukul sampai diakhiri dengan penembakan. Jadi kita semua tahu, bahwa di Intan Jaya orang Moni masih mempertahankan adatnya dengan suatu komitmen yang kuat, sehingga orang baru yang datang harus disesuaikan dengan lingkungan alam di sana” katanya.

“Dengan dibayarnya uang oleh Bupati Intan Jaya dan  Kapolda Papua dianggap bahwa nyawa orang Moni gampang dibeli. Apa yang nanti terjadi ke depan. MRP meminta kepada Brimob di Intan Jaya kembali ke tempatnya yang semula tidak boleh lagi ada di Intan Jaya,” tegasnya.

Ketua tim investigasi MRP, Ciska Abugau mengatakan, aparat keamanan dalam hal ini Brimob dan Polri jangan memusuhi antara masyarakat dan Bupati, di mana keharmonisan telah terjalin lama namun dengan penembakan ini masyarakat justru memusuhi pimpinan daerahnya padahal itu cara untuk menjauhkan pimpinan dan masyarakat setempat.

“Semua kejadian itu selalu terjadi saat pimpinan daerah tidak ada di tempat. Saya meminta kepada Brimob dan polisi jangan memusuhi antara masyarakat dan bupati. Dengan kejadian penembakan ini masyarakat jadi musuh sama bupati,” kata Ciska Abugau.

Namun, lebih jauh ditegaskan pihaknya melahirkan anak-anak Papua bukan untuk dibunuh ibarat binatang. “Sungguh kami sedih ketika anak-anak kami dibunuh oleh negara, kenapa kami punya anak-anak ini terus dibunuh. Kalau mereka nakal, kenapa tidak hanya dipukul saja sebagai bentuk pembelajaran. Tapi ini langsung dihabisi nyawa,” katanya.

Anggota MRP, Debora Mote mengatakan, pihaknya sangat sayangkan sikap premanisme yang dilakukan oleh Brimob yang selalu melakukan kekerasan di atas tanah Papua, terlebih di Intan Jaya.

“Kami tidak mau diselesaikan dengan diberikan sejumlah uang kepada keluarga korban. Ini cara lindungi pelaku. Pak Bupati harus harus bijak dalam mengambil tindakan. Tapi, harus memecat dan menghukum pelaku,” ujar Mote.

Selain itu, Fransiska Okmonggop Mote salah satu anggota MRP juga turut prihatin atas tragedi itu dan pihaknya meminta agar pengungkapan pelaku penembakan jangan ulur waktu.

“Terjadi penembakan oleh oknum Brimob itu kepada Otianus Sondegau pada siang hari. Jangan ulur waktu dan jangan alasan banyak. Segera sebutkan namanya siapa dan berikan sanksi yang sebesar-besarnya,” ujarnya. (*)

Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA