JOHN OTTO ONDOAME, UJUNG TOMBAK PAPUA DARI NEMANGKAWI - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » » JOHN OTTO ONDOAME, UJUNG TOMBAK PAPUA DARI NEMANGKAWI

JOHN OTTO ONDOAME, UJUNG TOMBAK PAPUA DARI NEMANGKAWI

Written By Suara Wiyaimana Papua on Selasa, 09 September 2014 | Selasa, September 09, 2014

Mendiang Otto Ondowame dari hutan Papua
ke Stockolm Swedia menetap
di Vanuatu  dan memimpin delegasi
Papua di Pertemuan Ujung
Tombak Negara-negara Melanesia 2013,
di Noumea Kaledonia Baru(Jubi/ist)
Jayapura, 9/9 (Jubi)-Orang Papua baru saja tersentak , menundukkan kepala atas kepergian salah satu tokoh pejuang Papua dari Nemangkawi. Radio New Zealand menyebutnya sebagai pemimpin penting bagi orang-orang Papua.

Namanya John Otto Ondowame , lelaki Amungme kelahiran Wanamun, Bumi Amungsa, 30 November 1953. Sejak 2013 bersama rekan-rekannya di WPNCL berjuang untuk Papua Barat masuk dalam deretan bangsa-bangsa Ujung Tombak Melanesia.

Rex Rumakiek, salah seorang rekan seperjuang dari WPNCL mengatakan orang Papua telah kehilangan tokoh penting dan ilmuwan politik dalam perjuangan Papua Merdeka. Katanya, Ondowame adalah orang yang berpendidikan tinggi  dan datang dari wilayah yang kaya tambang emas, tetapi memilih hidup sederhana dan bersahaja. Ia tamat dari Universitas Cenderawasih (Uncen) dan masuk dalam semak-semak hutan rimba, memanggul senjata dan berjuang demi tanah Papua.

Sayangnya pejuang ujung tombak bangsa Papua  telah pergi menghadap Hai Yogon Nerek atau Jomun Somun Nerek, Bapak Maha Kuasa, Maha Baik, Maha Suci yang berada di Surga atau Sang Pencipta dalam bahasa Amungme.

Dia menghembuskan nafas terakhir pada 4 September lalu di Rumah Sakit di Port Villa Vanuatu, di Pasifik Selatan, setelah berjuang mempertahankan hidup dari penyakit jantung yang dideritanya. Ia pergi meninggalkan seorang isteri perempuan asal Fiji dan anak laki-laki bernama Jacob.

Para pemuda Amungme pada awal 1970 an banyak yang datang belajar di Kota Jayapura, termasuk John Otto Ondowame mahasiswa administrasi negara Uncen, Thom Beanal mahasiswa STFT Taburia Padangbulan, Constan Hanggaibak mahasiswa APDN Yoka, Kelly Kwalik bersekolah di SPG Taruna Bhakti Waena.

Selesai meraih gelar sarjana muda dari Universitas Cenederawasih 1976, pilihannya memperjuangkan kemerdekaan Papua. Setahun kemudian 1977 pecah peristiwa sosial dan masyarakat Amungme mengungsi sampai ke tambang Ok Tedi di Papua New Guinea, akibat operasi militer. Seluruh wilayah pegunungan berkecamuk, pesawat tempur Bronco memborbardir dari udara, menghilangkan nyawa banyak orang. Peristiwa Kobagma ini menjadi awal tragedi 1977.

John Otto Ondowame bergabung bersama pejuang Papua Jacob Pray yang juga sarjana muda lulusan Universitas Cenderawasih. Bertahun-tahun dia berjuang di hutan perbatasan Papua dan Papua New Guinea(PNG). Sekitar 1983 para pejuang di hutan Papua ini mendapat suaka politik di Eropa. Jacob Pray dan Otto Ondowame ke Stockolm Swedia dan bergabung dengan Nick Messet, Indey, Dr Mauri. Sedangkan Zeth Roemkoren mendapat suaka politik di Yunani.

Orang Amungme selalu mengungkapkan perasaan mereka dengan memakai kata-kata kiasan yang memiliki arti sangat mendalam. Mendiang Mozes Killangin tokoh Amungme dalam tulisannya kepada Majalah Triton 1958 mengungkapkan, Pasang Lampu Lekas Antero Masih Gelap. Dalam artikelnya Guru Mozes Kilangin menegaskan kawasan Akimuga dan Puncak Cartensz masih tertinggal dan belum pernah ada sentuhan pembangunan dari pemerintah Belanda.

Begitu pula salah seorang putra Amungme, almarhum Anthon Kelanangame, eks wartawan Tifa Papua dalam skripsi sarjana muda di Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur(STFT) berjudul, “Belum Bertanya Sudah Menjawab”. Artinya, mereka semua belum bertanya kepada masyarakat Amungme sudah menjawab dengan membuka tambang di kawasan Nemangkawi.

John Otto Ondowame . Laki laki dari Amungme, patut dikenang sebagai ujung tombak Papua yang runcing, memperjuangkan hak-hak orang Papua untuk lepas dari belenggu pasca kolonialisme modern.

Meski berjuang dengan segala keterbatasan, John Otto Ondowame tak lupa untuk belajar, mereguk sumur pengetahuan.. Bayangkan saja dia mampu meraih gelar PhD , political science dari Australian National University 2000. pendidikan Pasca Sarjana dia selesaikan dari University of Western Sidney.
Menyimak dari berbagai gelar kesarjaannya, Otto Ondowame adalah orang yang selalu belajar baik secara otodidak maupun melalui jalur resmi.

Sangat jarang menemui seorang pejuang Papua yang berpendidikan tinggi dan mau berjuang untuk orang Papua Merdeka. Bahkan pertemuan di Noumea, Kaledonia Baru, sangat nampak menegaskan bahwa Otto Ondowame memegang peran penting untuk melobi Papua Barat, masuk dalam keluarga besar Ujung Tombak Melanesia.

Lidah Ondonawe sangat fasih berbahasa Inggris, Swedia dan juga Belanda. Tak heran kalau kemampuan berbahasa asing membuatnya memiliki kelebihan untuk bernegosiasi dalam diplomasi politik.

Ondowame menulis disertasinya berjudul  ’One people, one soul’: West Papuan nationalism and the Organisasi Papua Merdeka (OPM)/Free Papua Movement. PhD, RSPAS, ANU, c. 2000. Mendiang Ondowame juga menulis berbagai artikel tentang Papua terutama tentang hak penentuan nasib sendiri. (Jubi/Dominggus A Mampioper)

Sumber: tabloidjubi.com
Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA