POHON DI ATAS BATU
Pembangunan Nation Building sangat penting dan prioritas sebagai pondasi sebelum kita bermimpi soal "State".
Banyak orang kejar STATE. Kejar bendera. Kejar kursi. Kejar pengakuan. Kejar deklarasi jadi presiden, perdana menteri, parlemen.
Tapi lupa: STATE itu hanya kulit. NATION itu akar.
Kau bisa deklarasikan negara di atas kertas dalam satu malam. Tapi kau tidak bisa bangun "bangsa" dalam satu malam. Bangsa butuh puluhan tahun untuk disatukan, ditempa oleh darah, air mata, dan pengorbanan bersama.
APA ITU NATION?
Nation itu rasa. Rasa senasib. Rasa seperjuangan. Rasa satu mama, satu darah, satu tanah, satu penderitaan dan satu tujuan.
Nation itu persatuan. Dari Sorong sampai Merauke. Lapago, Meepago, Saireri, Domberay, Bomberay. Tidak ada suku lebih tinggi, tidak ada kelompok lebih suci.
Nation itu nasionalisme, bukan primordialisme. Bukan sentimen keluarga dan kelompok. Bukan "saya punya orang". Tapi "kita satu bangsa terjajah".
APA YANG TERJADI KALAU STATE TANPA NATION?
1. Seperti pohon tumbuh di atas batu.
Kelihatan berdiri dari jauh. Kelihatan gagah. Tapi akarnya tidak masuk ke tanah. Tidak mengikat. Begitu badai kolonial dan badai kapitalisme datang, tumbang. Karena tidak ada akar yang pegang.
2. Negara jadi rebutan kelompok.
Karena tidak ada rasa bangsa, yang ada rasa kelompok. Hari ini kelompok A kudeta kelompok B. Besok kelompok B kudeta kelompok A. Rakyat jadi korban. Perjuangan jadi panggung sirkus. Musuh tertawa dari jauh.
3. Merdeka di atas kertas, terjajah di dalam mental.
Bendera bisa berkibar, tapi rakyat masih baku benci. Masih baku fitnah. Masih baku jual karena beda faksi. Itu bukan merdeka. Itu pindah penjajah dari kulit putih ke kulit hitam.
4. State tanpa Nation melahirkan boneka kolonial.
Karena tidak ada akar rakyat, maka penguasa baru akan cari akar di tempat lain: di Jakarta, di Canberra, di Washington, di donor NGO. Mereka tidak minta restu rakyat. Mereka minta restu tuan. Akhirnya "negara merdeka" itu hanya jadi kantor cabang penjajah baru.
5. State tanpa Nation membunuh revolusi dari dalam.
Rakyat yang dulu satu komando melawan penjajah, setelah ada "state" langsung pecah. Karena tidak ada pendidikan politik, tidak ada kesadaran kolektif. Yang ada hanya perebutan proyek, perebutan kursi, perebutan bendera. Revolusi dijual demi kursi.
6. State tanpa Nation tidak bisa lawan kapitalisme.
Kenapa? Karena kapitalisme butuh bangsa yang pecah. Negara tanpa akar gampang dibeli. Tanah adat gampang dijual. Hutan gampang dijadikan karbon. Karena penguasanya tidak takut rakyatnya. Dia hanya takut tuannya di luar.
PELAJARAN UNTUK PAPUA
Inilah penyakit kita hari ini. Kita terlalu sibuk bangun "STATE": Siapa presidennya? Siapa pemerintahan sementaranya? Siapa yang diakui dunia?
Tapi kita lupa bangun NATION : Bagaimana satukan hati rakyat? Bagaimana hilangkan primordialisme? Bagaimana bangun nasionalisme Papua yang satu? Bagaimana didik rakyat paham musuh dan strategi?
Jangan bangun pohon di atas batu. Bangun dulu tanahnya. Gemburkan dulu tanahnya. Satukan dulu tanahnya.
Tanahnya itu:Persatuan. Integritas. Kejujuran. Pendidikan politik. Kesadaran kolektif. Disiplin revolusioner. Saling percaya antar wilayah.
Cara bangun tanahnya:
Turun ke kampung. Bukan pidato di hotel. Bicara dengan bahasa rakyat. Bukan bahasa donor.
Bangun sekolah politik di setiap wilayah.
Rayakan penderitaan bersama, bukan hanya kemenangan kelompok. Kubur ego kelompok demi nama "Papua".
Kalau tanahnya subur, Nation-nya kuat, maka State akan tumbuh sendiri. Akarnya kuat. Badai apapun tidak akan tumbang.
PENUTUP
STATE adalah buah. NATION adalah akar. Jangan kejar buah sebelum tanam akar.
Kalau kita paksa panen buah dari pohon di atas batu, maka yang kita dapat hanya buah busuk dan pohon tumbang.
Bangun Nation dulu. Kuatkan akar dulu. Baru bicara State.
Karena merdeka tanpa bangsa itu penjara baru dengan bendera baru.
By: Ones Suhuniap Mantan Juru Bicara KNPH Pusat


0 komentar:
Posting Komentar