APARAT MAKIN BRUTAL: APA YANG SEBENARNYA TERJADI ANTARA MEI-JUNI 2026 DI INTAN JAYA? - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :

.

.
Home » , , , » APARAT MAKIN BRUTAL: APA YANG SEBENARNYA TERJADI ANTARA MEI-JUNI 2026 DI INTAN JAYA?

APARAT MAKIN BRUTAL: APA YANG SEBENARNYA TERJADI ANTARA MEI-JUNI 2026 DI INTAN JAYA?

Written By Suara Wiyaimana Papua on Jumat, 03 Juli 2026 | Jumat, Juli 03, 2026


APARAT MAKIN BRUTAL: APA YANG SEBENARNYA TERJADI ANTARA MEI-JUNI 2026 DI INTAN JAYA? 

Aparat keamanan di Intan Jaya bertindak semakin brutal sepanjang Mei hingga Juni 2026. Serangan lewat udara menggunakan pesawat tak berawak di beberapa kampung, operasi penyisiran, serta pembakaran rumah-rumah warga di Kampung Danggoa dan sekitarnya memaksa masyarakat mengungsi ke ibu kota kabupaten.

Puncaknya, kendaraan yang ditumpangi Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak juga menjadi sasaran tembak, dan Ev. Elianus Agimbau ditembak hingga tewas.

Dalam rentang dua bulan ini, tindakan aparat telah memakan korban jiwa dan melukai sejumlah warga sipil. Apa yang sebenarnya terjadi di Intan Jaya hingga warga biasa ditembak mati, hamba Tuhan gugur terkena tembakan, kendaraan yang ditumpangi Pastor Paroki Bilogai diserang, serta memaksa masyarakat dari beberapa kampung di Distrik Agisiga meninggalkan rumah dan mengungsi ke ibu kota kabupaten?

Suara Papua melakukan penelusuran mendalam sejak peristiwa pertama terjadi pada pertengahan Mei 2026. Dari verifikasi berbagai sumber informasi, diketahui rangkaian insiden ini bermula tepat pada pertengahan bulan Mei.

Peristiwa diawali dengan serangan udara ke Kampung Mbamogo yang melukai sejumlah umat Katolik pada 17 Mei 2026. Serangan ini diduga salah sasaran, mengingat kejadian-kejadian selanjutnya menunjukkan bahwa aparat mengarahkan operasinya untuk menyerang Aibon Kogeya, Komandan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma Batalyon Dullamo beserta pasukannya.

Dalam laporan ini, Suara Papua merangkum seluruh peristiwa yang terjadi sejak minggu kedua Mei hingga 30 Juni 2026.

Pernyataan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma, Batalyon Dullamo

Pada 23 Mei 2026, Brigjen TPNPB Aibon Kogeya, Komandan Batalyon Dullamo Kodap III Ndugama Derakma, menyampaikan pernyataan ke publik bahwa ia dan pasukannya telah kembali beroperasi di wilayah Intan Jaya setelah sebelumnya melakukan pergerakan dan perlawanan bersenjata terhadap TNI dan Polri di Nabire, ibu kota Provinsi Papua Tengah.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa perjuangan yang dilakukan TPNPB bukanlah untuk meminta proyek pembangunan, pemekaran kabupaten, atau pembentukan provinsi baru. Ia menyatakan perjuangannya bertujuan untuk membebaskan rakyat dan tanah Papua dari apa yang dianggapnya sebagai penjajahan oleh negara Indonesia.

“Kami berjuang untuk Merdeka. Papua harus Merdeka. Kami mau perang melawan negara. Jadi TNI/Polri harus kejar dengan kami yang ada senjata. Jangan kejar masyarakat. Kamu (TNI/Polri) turun ke setiap kampung dan distrik cari siapa?,” tegasnya

Pada kesempatan yang sama, ia juga meminta agar Presiden Prabowo, Gubernur, Bupati, dan anggota DPR untuk menyadari bahwa posisi mereka sebagai pemimpin didasarkan pada dukungan dan suara rakyat.

“Kenapa kami korbankan masyarakat sipil? Saya dengan pasukan saya siap perang. Bukan di kampung-kampung tapi di jalan Trans Papua,” tambahnya.

Aparat Menyerang dengan Drone, Warga Sipil Jadi Sasaran

Sebelum Aibon Kogeya mengeluarkan pernyataannya pada 23 Mei 2026, tepatnya pada Minggu 17 Mei 2026, sebuah granat yang diturunkan dari pesawat tak berawak meledak di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Paulus Nabuni Mbamogo, Distrik Sugapa, tak lama setelah umat selesai mengikuti ibadah misa. Akibat ledakan tersebut, empat orang umat mengalami luka terkena serpihan, yaitu Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan seorang warga lainnya.

Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah granat juga dijatuhkan ke wilayah Kampung Danggoa. Awalnya granat tersebut tidak meledak, namun ketika warga mendekatinya untuk memeriksa, granat itu meledak dan melukai dua orang warga setempat.

Tim Pastoral Paroki Bilogai yang dipimpin oleh Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak, RD Yanuarius Yance Yogi, segera turun tangan untuk mengevakuasi para korban. Granat yang diduga dijatuhkan menggunakan pesawat tak berawak juga ditemukan di halaman gereja tersebut.

Menanggapi peristiwa ini, pada Selasa 19 Mei 2026 Komando Operasi TNI Habema mengeluarkan pernyataan yang membantah bahwa granat tersebut merupakan milik TNI. Pihaknya menduga kejadian itu adalah bentuk provokasi dari pihak yang ingin memecah belah hubungan antara aparat keamanan dan masyarakat Papua, serta menyatakan granat yang ditemukan memiliki karakteristik yang berbeda dari persediaan standar yang digunakan TNI.

Kondisi semakin memburuk pada Senin, 25 Mei 2026. Salah satu korban luka akibat ledakan granat di Mbamogo, bernama Luter Nabelau, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Mimika, yang dirujuk sebelumnya dari RSUD Sugapa. Keluarga korban menyatakan bahwa almarhum adalah warga sipil sekaligus aparat kampung Danggoa, dan mendesak agar kasus ini diproses secara hukum.

Kejadian serupa terulang kembali pada Kamis, 18 Juni 2026. Sebuah ledakan yang diduga berasal dari granat yang dijatuhkan melalui pesawat tak berawak menghantam wilayah Kampung Danggoa, Distrik Agisiga. Akibatnya, dua warga sipil mengalami luka-luka, yaitu Aliana Pogau dan Ottopina Hogajau.

Aliana Pogau kemudian dirujuk ke RSUD Nabire setelah sempat dirawat di RSUD Intan Jaya, sedangkan Ottopina Hogajau tetap dirawat di rumah sakit setempat. Pada 25 Juni 2026, Aliana dinyatakan sudah boleh pulang, dan Tim Kemanusiaan yang dibentuk Pemerintah Daerah Intan Jaya berencana menjemputnya kembali ke kampung halaman.

Sekali lagi, Komando Operasi TNI Habema memberikan bantahan. Pada Senin, 22 Juni 2026, pihak militer menegaskan tidak ada pergerakan atau patroli pasukan ke Kampung Danggoa saat peristiwa berlangsung, serta memastikan tidak ada penggunaan granat atau bahan peledak oleh personel TNI pada waktu tersebut.

Penyerangan ke Kampung Danggoa Hingga Pesawat Mendarat Pukul 18.00 WIT

Pada 27 Juni 2026, aparat keamanan memasuki wilayah Kampung Danggoa dan melakukan operasi penyisiran yang diikuti dengan pembakaran sejumlah rumah warga. Tindakan ini diduga dilakukan karena selama ini Kampung Danggoa dianggap sebagai basis tempat tinggal dan operasi Brigjen TPNPB Aibon Kogeya dan pasukannya.

Seperti yang tercatat sebelumnya, di kampung inilah pada 23 Mei 2026 Aibon Kogeya menyampaikan pernyataan publik bahwa ia telah kembali beroperasi di wilayah Intan Jaya.

Jumlah pasti rumah yang terbakar belum terdata karena belum ada tim yang dapat menjangkau lokasi secara aman. Pada saat kejadian, sebagian besar warga sudah tidak berada di kampung karena sedang berkunjung ke ibu kota kabupaten dalam rangka pencairan dana desa.

Belum ada luka atau korban jiwa dari pihak TPNPB maupun warga sipil yang dilaporkan dalam insiden ini. Namun, tercatat satu orang anggota TNI, yaitu Praka Bayu Oktara gugur dalam kontak senjata.

Pada hari yang sama, warga melaporkan bahwa sekitar pukul 18.00 WIT sebuah pesawat jenis Caravan mendarat dan kemudian terbang kembali sesaat setelahnya di Bandara Bilorai, Sugapa. Pesawat itu diduga mendarat untuk mengevakuasi korban yang ditembak mati oleh TPNPB di Kampung Danggoa.

Keesokan harinya, Minggu 28 Juni 2026, sebuah pesawat kembali terlihat mendarat, padahal hari Minggu biasanya ditetapkan sebagai hari libur tanpa jadwal penerbangan di wilayah Intan Jaya. Warga juga melaporkan mendengar suara tembakan dari arah sekitar Distrik Hitadipa pada hari itu.

Masyarakat Mengungsi ke Ibu Kota Kabupaten

Akibat meningkatnya ketegangan keamanan, sebagian besar warga dari Kampung Danggoa, Soali, Mbamogo, Balamai dan Tausiga memilih mengungsi menuju ibu kota kabupaten, tepatnya ke wilayah Yokatapa, Distrik Sugapa.

Para pengungsi sementara ditempatkan di bekas barak pegawai yang terletak tidak jauh dari Pos Polisi Sugapa. Hingga laporan ini disusun, belum ada data resmi mengenai jumlah pasti warga yang mengungsi maupun bentuk bantuan yang sudah disiapkan oleh pemerintah daerah. Pihak Redaksi Suara Papua akan terus melakukan konfirmasi dan verifikasi kepada pihak berwenang serta tim kemanusiaan.

Mobil Pastor Paroki Bilogai Ditembak, Evangelis GKII Tewas dan Dua Pemuda Terluka

Pada tanggal 29 Juni 2026, terjadi insiden penembakan terhadap kendaraan yang ditumpangi oleh RD Yanuarius Yance Yogi, Pastor Paroki Bilogai sekaligus Dekan Dekenat Moni Puncak dari Keuskupan Timika. Saat itu, kendaraan tersebut sedang dalam perjalanan menuju Tigigi setelah mengambil bahan bangunan untuk pembuatan bronjong dan pembangunan Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius.

Di dalam kendaraan tersebut terdapat sebelas orang, terdiri dari pendeta, seorang suster, tiga orang karyawan, serta sejumlah warga sipil. Peluru dilaporkan menembus atap dan sisi kiri kendaraan, namun tidak ada korban jiwa maupun luka di antara penumpang utama. Meskipun demikian, dua orang warga sipil turut terkena tembakan, satu orang berada di dalam kendaraan, sedangkan satu orang lagi sedang berada di atas alat berat ekskavator di pinggir jalan.

Bersamaan dengan insiden itu dan tidak jauh dari lokasi, tepatnya di Pangkalan Ojek Mbamogo, Evangelis Elianus Agimbau ditembak dan meninggal dunia. Almarhum bertugas sebagai gembala sidang di Jemaat Gereja GKII Damsik Klasis Nabia. Jenazahnya baru berhasil dievakuasi pada 30 Juni dan dimakamkan pada 1 Juli 2026. Seorang pemuda yang sempat berjalan bersama almarhum berhasil melarikan diri dan selamat.

Keluarga korban baru mengetahui peristiwa tersebut pada 30 Juni 2026. Setelah dilakukan pencarian bersama tim dan perwakilan pemerintah daerah, jenazah ditemukan di lokasi kejadian, kemudian dibawa ke pos pengungsian warga di Yokatapa sebelum akhirnya dimakamkan. Proses pemakaman dipimpin oleh Pendeta Dr. Hans Waker, Ketua II Sinode GKII Wilayah II Papua Tengah.

Okto Tigau Ditemukan dengan Lima Luka Tembak di Dada

Okto Tigau, 19 tahun, warga yang dilaporkan hilang sejak 29 Juni 2026, ditemukan meninggal dunia pada Rabu siang, 1 Juli 2026, di belakang Pos Rajawali Habema, kawasan perkantoran pemerintah Kabupaten Intan Jaya, Kampung Mamba, Distrik Sugapa. Ia diduga tewas setelah mengalami penyiksaan dan ditembak oleh aparat keamanan.

Berdasarkan keterangan saksi dan kronologi yang diperoleh Suara Papua, sebelumnya Okto berada di wilayah Mamba untuk menghadiri pemakaman seorang kerabatnya. Setelah selesai, pada 29 Juni 2026 ia menumpang ojek menuju kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk mengurus Kartu Keluarga dan KTP. Namun di tengah perjalanan, di kawasan perkantoran, ia dan pengojek dihadang, ditahan, dan dipukuli oleh aparat TNI. Okto kemudian dibawa ke Pos Rajawali Habema, sedangkan pengojek dibawa ke pos terdekat lainnya, diinterogasi, lalu dilepaskan. Keterangan dari pengojek inilah yang pertama kali disampaikan kepada keluarga korban.

Pencarian terhadap Okto dilakukan sejak hari itu namun tidak membuahkan hasil. Pada Rabu pagi, 1 Juli 2026, warga berkumpul di kantor bupati dan bergerak bersama memeriksa setiap pos keamanan di wilayah perkantoran Mamba. Sesampainya di belakang Pos Rajawali Habema, mereka menemukan jenazah Okto Tigau.

Bupati, Wakil Bupati, anggota DPRD, serta pejabat daerah lainnya turut hadir di lokasi sebelum jenazah dibawa ke simpang lima dekat kantor bupati lalu makamkan jenazahnya tepat di samping makam Ev. Elianus Agimbau yang dimakamkan pada hari yang sama.

Kondisi fisik jenazah menunjukkan tanda-tanda kekerasan yang berat. Berdasarkan dokumentasi yang diterima, terdapat lima lubang luka di bagian dada dan perut yang sesuai dengan luka tembak, serta memar dan luka lebam di wajah dan kepala yang diduga terjadi akibat penganiayaan sebelum korban meninggal.

Kasus ini memperkuat desakan dari masyarakat dan keluarga agar Komisi Nasional Hak Asasi Manusia melakukan penyelidikan secara independen dan menyeluruh.

Temuan Suara Papua

Antara Mei hingga 30 Juni 2026, tim Suara Papua berhasil menghimpun berbagai data dan fakta di lapangan. Di antaranya tercatat adanya perpindahan dan pengungsian warga ke ibu kota kabupaten, jatuhnya korban jiwa, serta luka-luka akibat ledakan granat dan insiden penembakan.

Kronologi Peristiwa di Wilayah Intan Jaya dan Sekitarnya, Mei – Juli 2026

17 Mei 2026: Sebuah granat meledak di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Paulus, Kampung Mbamogo, Distrik Sugapa, tepat setelah ibadah selesai. Di waktu yang hampir bersamaan, granat lain juga dijatuhkan di Kampung Danggoa dan meledak saat didekati warga.

19 Mei 2026: Komando Operasi TNI Habema mengeluarkan pernyataan membantah bahwa granat yang meledak adalah milik TNI, dengan alasan jenisnya berbeda dari persediaan standar.

23 Mei 2026: Brigjen TPNPB Aibon Kogeya menyampaikan pernyataan publik di Kampung Danggoa, mengumumkan kembalinya pasukannya beroperasi di Intan Jaya, serta menegaskan perjuangan kemerdekaan dan larangan menyerang warga sipil.

25 Mei 2026: Luter Nabelau, korban luka ledakan granat, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Mimika.

18 Juni 2026: Terjadi kembali ledakan granat yang diduga dijatuhkan lewat pesawat tak berawak di Kampung Danggoa, melukai dua warga sipil.

22 Juni 2026: Komando Operasi TNI Habema kembali menegaskan tidak terlibat dalam insiden ledakan tersebut.

27 Juni 2026: Terjadi kontak tembak antara aparat keamanan dan TPNPB di Kampung Danggoa, yang mengakibatkan gugurnya Praka Bayu Oktara. Aparat juga melakukan penyisiran dan membakar sejumlah rumah warga. Pesawat Caravan mendarat di Bandara Bilorai untuk evakuasi korban.

28 Juni 2026: Terdengar suara tembakan di sekitar Distrik Hitadipa, serta terlihat aktivitas penerbangan meski hari itu hari libur.

29 Juni 2026: Kendaraan yang ditumpangi Pastor Dekan ditembak di jalan Tigigi–Mbamogo namun penumpang selamat. Di lokasi berdekatan, Evangelis Elianus Agimbau ditembak dan meninggal dunia. Warga Okto Tigau dilaporkan hilang.

1 Juli 2026: Jenazah Okto Tigau ditemukan di belakang Pos Rajawali Habema dengan tanda kekerasan dan luka tembak.

Jumlah Korban Jiwa dan Korban Luka-luka

Selama rentang waktu tersebut, tercatat empat orang meninggal dunia akibat rangkaian peristiwa:

Luter Nabelau – Warga sipil dan aparat kampung Danggoa, meninggal 25 Mei 2026 akibat luka ledakan granat.

Praka Bayu Oktara – Anggota Satgas TNI Rajawali IV, gugur 27 Juni 2026 dalam kontak tembak di Kampung Danggoa.

Ev. Elianus Agimbau – Pelayan jemaat GKII, ditembak dan meninggal 29 Juni 2026 di Pangkalan Ojek Mbamogo.

Okto Tigau – Warga sipil berusia 19 tahun, ditemukan meninggal 1 Juli 2026 dengan tanda kekerasan dan luka tembak.

Suara Papua mencatat sebanyak sembilan orang warga sipil mengalami luka-luka akibat berbagai insiden:

Pada 17 Mei 2026: Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan dua warga lainnya akibat ledakan granat di Mbamogo dan Danggoa.

18 Juni 2026: Aliana Pogau dan Ottopina Hogajau akibat ledakan granat di Kampung Danggoa.

29 Juni 2026: Dua orang pemuda terkena tembakan dalam insiden penembakan di jalan Sugapa – Hitadipa, tepatnya di kampung Titigi.

Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini, Suara Papua mencatat sembilan orang korban luka-luka akibat ditembak dan akibat ledakan granat.  Sedangkan empat orang tewas, diantaranya tiga masyarakat sipil dan satu anggota TNI gugur dalam pertempuran dengan TPNPB di kampung Danggoa, Agisiga.

https://suarapapua.com/2026/07/02/aparat-makin-brutal-apa-yang-sebenarnya-terjadi-antara-mei-juni-2026-di-intan-jaya/?fbclid=Iwb21leASzGIVjbGNrBLMYdmV4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHrAbTa_lGIiM2q3G6LYnJdBMavgQTr1m3u9QaJSsBjKx-D0bY5bcw4ZjdWon_aem_TaXu9oJJ7Zpqv4MN4w3AYg











Share this article :

0 komentar:

.

.

Pray For West Papua

Pray For West Papua

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA