
Pemimpin TPNPB OPM di Intan Jaya Aibon Kogoya
Mayor Aibon Kogoya Tentukan Wilayah Perang Dan Mengimbau Kepada Aparat Militer Indonesia Untuk Hentikan Operasi Militer Di Intan Jaya, TPNPB: Kami Perang Di Jalan Trans Nabire-Ilaga
Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Sabtu, 6 Juni 2026
Silahkan Ikuti Laporan Dibawa Ini.!
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Mayor Aibon Kogoya dari markas TPNPB di Intan Jaya bahwa sejak Agustus 2025 sampai April 2026 kami melakukan perang di pusat Kota Nabire melawan aparat militer Indonesia, selama perang terjadi di Nabire amunisi kami berjumlah 561 butir dirampas oleh aparat militer Indonesia sementara kami juga berhasil merampas 1000 lebih amunisi dan menyita dua senjata laras panjang dan tembak mati dua orang aparat militer Indonesia di Nabire dan lainnya luka-luka dalam aksi kontak senjata per Agustus 2025-April 2026, Mayor Aibon Kogoya juga mengatakan bahwa perang yang terjadi dari Intan Jaya, Paniai dan Nabire untuk merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua yang sudah merdeka sejak 1 Desember 1961 yang telah di akui oleh Belanda. Namun pada 19 Desember 1961 terjadinya operasi militer Indonesia secara besar-besaran atas perintah Soekarno di Yogyakarta atau Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) yang mengakibatkan terjadinya pembantaian terhadap orang-orang Papua yang tak bersalah dan berdosa lalu Papua diambil alih dalam kolonialisme Indonesia. Oleh sebab itu, kami dengan tegas menolak pendudukan ilegal Indonesia di atas Tanah Papua hingga sekarang dan perang akan terus terjadi sampai Indonesia mengakui kemerdekaan bangsa Papua.
Mayor Aibon Kogoya juga mengimbau kepada Presiden Prabowo Subianto, Panglima TNI Agus Subyanto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin agar hentikan operasi militer di Intan Jaya serta berhenti melakukan serangan bom melalui pesawat nirawak serta serangan bom melalui darat harus dihentikan serta penggunaan ranjau darat di pemukiman warga sipil harus dihentikan di Intan Jaya sebab, wilayah perang kami ada di Jalan Trans Nabire. Jika mau cari saya silahkan datang di Jalan Trans Nabire, jangan lagi anda bunuh-bunuh warga sipil di Intan Jaya yang tidak bersalah apa lagi ibu-ibu, anak-anak kecil dan pendeta serta melakukan serangan bom di Gereja-gereja itu harus di hentikan dan kami juga menegaskan kepada aparat militer Indonesia untuk sekali lagi hentikan serangan bom terhadap Gereja-gereja di Intan Jaya.
Kami juga menegaskan kepada pemerintah kolonialisme Indonesia dan semua pihak di Tanah Papua terlebih khususnya Bupati Intan Jaya, DPR Intan Jaya, Kepala-kepala suku dan rakyat Papua di Intan Jaya agar hentikan pembahasan eksploitasi emas, tembaga dan sumber daya alam Papua di wilayah Intan Jaya. Kami juga dengan tegas menolak pertambangan emas di Blok B Wabu di Intan Jaya karena keberadaan perusahaan-perusahaan nasional dan asing di Tanah Papua hanya mengakibatkan kerusakan alam, lingkungan hingga menyebabkan kematian dan pembunuhan terhadap warga sipil akibat operasi militer terus meningkat, seperti contohnya yang terjadi di Tembagapura Papua melalui PT. Freeport McMoRan milik Amerika Serikat yang dijaga ketat oleh aparat militer Indonesia sejak tahun 1967 yang hingga sekarang telah mengakibatkan banyak korban jiwa dari masyarakat adat karena operasi militer areal pertambangan serta meningkatnya kematian bagi anak-anak dan ibu-ibu karena keracunan limbah perusahan yang telah mencemari lindungan dan sumber kehidupan masyarakat adat di Tembagapura yang berdampak sampai bagian Merauke.
Demikian Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Sabtu, 6 Juni 2026 oleh Sebby Sambom Jubir TPNPB OPM.
Dan terima kasih atas kerja sama yang baik.
Penanggungjawab Nasional Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM.
Jenderal Goliath Tabuni
Panglima Tinggi TPNPB-OPM
Letnan Jenderal Melkisedek Awom
Wakil Panglima TPNPB-OPM
Mayor Jenderal Terianus Satto
Kepala Staf Umum TPNPB-OPM
Mayor Jenderal Lekagak Telenggen
Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM

0 komentar:
Posting Komentar