KONTRADIKSI MEMATIKAN DALAM TUBUH PERLAWANAN PAPUA
Kenapa Dan Bagaimana Semut Merah dan Semut Hitam Tidak Pernah Bisa Bobol Toples Kolonial
DUA KUBU, DUA REALITAS: AKAR KONTRADIKSI
Ada kontradiksi tidak produktif yang terus menggerogoti gerakan pembebasan Papua.
Kubu Pertama: Gerakan Perlawanan Dalam Negeri.
Lahir dari realitas objektif penindasan. Mereka hidup di bawah moncong senjata Operasi Damai Cartenz, melihat tanah ulayat dirampas, mama-mama dipukul, anak putus sekolah. Bagi mereka, perlawanan adalah soal napas. Metode mereka: darah, keringat, dan aksi langsung.
Kubu Kedua: Elit Pejuang Pragmatis dan Para Diplomat.
Mereka tersandera pada mekanisme formal: lobi PBB, hukum internasional, resolusi, diplomasi negara. Padahal mekanisme itu adalah produk kapitalisme global yang dirancang untuk tidak akan pernah menyelamatkan bangsa terjajah. Mereka ini tercandra dengan romantisme sejarah yang hanya dijadikan landasan pijakan kaki.
Di sinilah retaknya:
1. Para diplomat tidak paham dinamika lapangan. Mereka tidak merasakan psikologi dan fisiologi rakyat yang setiap hari ditindas rezim militeristik. Mereka tidak tahu rasanya lapar, trauma, dan muak dengan janji.
2. Mereka berpikir dengan kerangka state. Mengutamakan konsep negara dan berharap pada dukungan internasional. Berharap Amerika Serikat peduli, berharap Israel membantu.
Lupa bahwa negara-negara itulah yang dulu melegalkan penjajahan lewat Kontrak Karya Freeport 1967 dan Pepera 1969.
3. Sementara gerakan progresif di dalam negeri berpikir sebaliknya. Mereka yakin tindakan politik harus intelektual dan revolusioner. Rakyat Papua bukan objek yang menunggu diselamatkan. Rakyat Papua adalah subjek utama, satu-satunya super power yang harus mempelopori pembebasannya sendiri.
2. DAMPAKNYA: TRUST ISSUE DAN PERSATUAN PALSU
Perbedaan perspektif ini melahirkan trust issue yang akut. Ujungnya: perbedaan strategi dan metode perjuangan yang tidak pernah ketemu.
Akibat fatal: Persatuan terhambat total.
Selama ini proses persatuan yang didorong hanya persatuan struktural : menggabungkan organisasi, membuat forum bersama, deklarasi, dan bagi-bagi kursi. Tapi strategi perjuangan stratak tidak pernah padu. Tidak ada kesepakatan kolektif: siapa musuh utama, apa metode utama, apa tujuan antara yang harus dicapai.
Ini adalah soal infrastruktur dan suprastruktur perjuangan. Infrastruktur wadah, aliansi, kantor, bendera, nama front.
Suprastruktur = ideologi, garis politik, strategi, disiplin, trust, dan analisis yang sama.
Kesalahan fatal kita selama ini: Terlalu sering membangun infrastruktur, tapi lupa suprastruktur tidak pernah dipadatkan. Akibatnya, gedungnya megah tapi isinya kosong. Forumnya ramai tapi arahnya berbeda-beda. Perjuangan kita punya tubuh, tapi tidak punya nyawa dan mesin.
Inilah kelemahan mendasar persatuan bangsa Papua. Kita terus berputar dalam lingkaran setan yang sama puluhan tahun karena tidak pernah membereskan suprastrukturnya.
3. HIDUP DALAM LABIRIN KOLONIAL: ANALOGI TOPLES SEMUT
Kita hidup dalam labirin yang sengaja dibangun kolonialisme. Dan di dalam labirin itu, trust issue diselundupkan sebagai ranjau.
Hasilnya: Pejuang Papua seperti semut merah dan semut hitam yang terjebak dalam satu toples kaca.
Jika toples diam, semut-semut itu akan hidup berdampingan.
Tapi penjajah cukup menggoyang toplesnya dengan isu, uang, jabatan, atau fitnah "dia antek Jakarta" maka semut merah dan semut hitam akan saling bunuh sampai mati.
Sementara penjajah menonton dari luar toples sambil tepuk tangan. Dia tidak perlu menembak kita. Cukup biarkan kita menghabiskan energi untuk saling mencurigai dan menghancurkan.
Contoh nyata:
1. Semut Diplomat berteriak: "Lobi internasional adalah kunci!"
2. Semut Lapangan membalas: "Kalian menjual penderitaan kami untuk tiket pesawat dan hotel!"
3. Penjajah tertawa: "Bagus, teruskan bertengkar. Sementara itu PSN tetap jalan dan Freeport tetap nambang."
Selama suprastruktur tidak beres, kita akan selamanya jadi semut dalam toples. Marah, tapi amarahnya salah alamat. Bukan ke dinding toples, tapi ke sesama semut.
JALAN KELUAR
1). RUMUS BANGUN PERSATUAN REVOLUSIONER
Prinsip: Bangun Suprastruktur Dulu, Infrastruktur Akan Menyusul. Sepakati musuh sebelum bentuk forum atau pront struktur.
Persatuan tidak dimulai dari "ayo gabung". Persatuan dimulai dari "ayo sepakati siapa musuh bersama". Uji 3 Pertanyaan ke semua faksi sebelum bersatu:
1. Siapa musuh utama? Kolonialisme dan Kapitalisme serta militerisme ?
2. Siapa subjek utama? Rakyat di kampung atau belas kasihan negara asing?
3. Apa metode utama? Membangun kekuatan rakyat atau menunggu keajaiban PBB?
Jika jawaban atas 3 hal ini tidak sama, jangan paksakan persatuan struktural. Itu hanya akan membuat toples baru yang lebih besar.
2. STRATAK ADALAH NYAWA, STRUKTUR ADALAH BADAN
1. Bangun Suprastruktur = Bangun Stratak : Ini kerja ideologi. Lewat sekolah bawah tanah, diskusi honai, pendidikan politik, kurikulum pembebasan. Samakan analisis, samakan disiplin.
2. Bangun Infrastruktur = Bangun Struktur: Aliansi, front, komite persatuan baru dibentuk jika 80% suprastrukturnya sudah solid.
Kita terbalik selama ini : Menciptakan badan raksasa dengan banyak kepala dan paru-paru yang berbeda. Ya pasti mati.
3. BUNUH TRUST ISSUE DENGAN KERINGAT BERSAMA
Kepercayaan tidak lahir dari seminar dan deklarasi. Kepercayaan lahir dari kerja lapangan bersama.
Protokolnya: Sebelum ada kongres persatuan, semua elit dan diplomat wajib tinggal minimal 1 bulan di kampung korban PSN. Makan ubi yang sama, tidur di honai yang sama, digigit nyamuk yang sama.
Jika menolak, berarti dia bukan pejuang. Dia turis politik. Singkirkan.
PENUTUP: PUKULAN PALU UNTUK SEMUA FRAKSI
Kolonial tidak takut kita bersatu di bawah satu bendera. Kolonial takut kita bersatu di dalam satu kepala, suatu tujuan, satu strategi dan gerak bersama.
Selama ini kita membangun gedung persatuan tanpa pondasi. Namanya indah, tapi isinya saling tikam. Itu bukan persatuan. Itu kandang yang kuncinya dipegang serigala.
Mekanisme PBB tidak akan membebaskan kita, karena PBB ikut melegalkan penjajahan kita.
Amerika dan Israel tidak akan membebaskan kita, karena mereka juga penjajah. Satu-satunya super power adalah rakyat: mama yang plang jalan, bapa yang tolak jual tanah, pemuda yang tidak bisa dibeli.
Berhenti jadi semut merah dan semut hitam.
Tugas pertama bukan bersatu, tapi memecahkan toplesnya.
Caranya: Sepakati musuh bersama. Sepakati jalan bersama. Baru jalan bersama.
Suprastruktur dulu. Infrastruktur ikut.
Pikiran dulu. Bendera ikut.
Jika tidak, 100 tahun lagi kita masih berdebat di dalam toples, sementara tanah kita habis di luar.
Kenapa Dan Bagaimana Semut Merah dan Semut Hitam Tidak Pernah Bisa Bobol Toples Kolonial.
By: Ones Nesta Suhiniap


0 komentar:
Posting Komentar