Aparat Militer Indonesia Dibawa Pimpinan Jermias Rontini Tembak Mati Pelajar SMA Di Dogiyai Dan Menuduh Korban Sebagai Anggota TPNPB
Siaran Pers Ke III Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Minggu, 10 Mei 2026
Silahkan Ikuti Laporan Dibawa Ini.!
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB secara resmi mengutuk Irjen Polisi Yermias Rontini dan jajarannya terkait penembakan yang menewaskan seorang pelajar SMA N 2 Kabupaten Dogiyai atas nama Nopison Tebay. Setelah korban ditembak mati Yermias Rontini mengaku bahwa anggotanya berhasil menembak mati Nopison Tebay karena ia terlibat sebagai anggota TPNPB. PIS TPNPB melaporkan bahwa Nopison Tebay ditembak mati oleh aparat militer indonesia sekitar pukul 08.45 pagi di Kampung Idadagi, Distrik Dogiyai saat umat Kristen sedang beribadah di hari minggu pagi. Penembakan dilakukan saat tiga unit mobil milik aparat militer Indonesia dari arah pos militer dengan keadaan melaju dengan kencang hingga memasuki Kampung Idadagi dan melakukan penembakan secara brutal ke arah perumahan warga sipil hingga korban yang berada di rerumputan terkena tembakan dan mati di tempat kejadian.
PIS TPNPB juga melaporkan bahwa Nopison Tebay adalah benar-benar warga sipil yang berstatus pelajar bukan bagian dari anggota TPNPB sehingga perintah tembak mati yang dilakukan oleh Yermias Rontini adalah bentuk pelanggaran hukum dan negara harus bertanggung jawab bahkan aparat menuduhnya sebagai anggota TPNPB tanpa adanya bukti senjata api atau bom yang sebagaimana digunakan oleh aparat militer Indonesia untuk melakukan serangan terhadap pemukiman warga sipil di Papua saat operasi dilakukan.
Dalam hal tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB meminta kepada lembaga-lembaga HAM internasional untuk dapat melakukan investigasi secara netral dan transparan terkait pembunuhan Nopison Tebay di Dogiyai dan rentetan pembunuhan terhadap warga sipil di wilayah tersebut yang benar-benar dilakukan oleh aparat militer Indonesia baik TNI maupun Polisi. Karena dalam rentetan kasus di Dogiyai sejak awal Januari hingga Mei 2026 telah banyak korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil terutama anak-anak, pelajar dan lansia namun para pelaku masih terus dilindungi oleh Yermias Rontini dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo tanpa adanya proses hukum bagi para pelaku dan hal ini banyak terjadi di seluruh wilayah Papua selama operasi militer terus dilancarkan.
Oleh sebab itu, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengimbau kepada seluruh orang Papua dari Sorong-Merauke untuk bersatu dan berjuang merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua jika tidak negara Indonesia akan terus melakukan pendoropan pasukannya lalu meningkatkan operasi militer dan membunuh habis orang Papua tanpa terkecuali. Hal ini perlu kami sampaikan bahwa negara indonesia tidak lagi membutuhkan orang Papua melainkan hasil kekayaan alam Papua sehingga orang Papua akan terus dibunuh, ditangkap, disiksa bahkan ditembak mati. Rakyat Papua juga harus sadar bahwa hingga sekarang masyarakat adat di Merauke masih terus melakukan penolakan terhadap proyek strategis nasional dibawa pimpinan Presiden Prabowo Subianto namun hak-hak masyarakat adat tidak pernah terpenuhi dan dijamin dalam negara kolonialisme indonesia dan itu harus menjadi contoh bagi seluruh orang Papua untuk tidak terlena dalam kebijakan negara kolonialisme Indonesia diatas Tanah Papua sehingga orang Papua wajib bersatu dan membakar seluruh aset negara kolonialisme Indonesia diatas Tanah Papua dan merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua.
Demikian Siaran Pers Ke III Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Minggu, 10 Mei 2026 oleh Sebby Sambom Jubir TPNPB OPM.
Dan terima kasih atas kerja sama yang baik.
Penanggungjawab Nasional Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM.
Jenderal Goliath Tabuni
Panglima Tinggi TPNPB-OPM
Letnan Jenderal Melkisedek Awom
Wakil Panglima TPNPB-OPM
Mayor Jenderal Terianus Satto
Kepala Staf Umum TPNPB-OPM
Mayor Jenderal Lekagak Telenggen
Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM


0 komentar:
Posting Komentar