Demo Desak Presiden Jokowi, Buka Akses Kemanusiaan Untuk Papua - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » , , , » Demo Desak Presiden Jokowi, Buka Akses Kemanusiaan Untuk Papua

Demo Desak Presiden Jokowi, Buka Akses Kemanusiaan Untuk Papua

Written By Suara Wiyaimana Papua on Kamis, 30 April 2015 | Kamis, April 30, 2015

Mahasiwa Papua yang tergabung dalam GempaR melakukan aksi mendesak pemerintah Indonesia buka akses jurnalis asing ke Papua, 29/4/2015. Jubi/Arnold Belau
Jayapura, Jubi –  Solidaritas Papua,  Jakarta dan  Internasional yang terdiri dari  40-an organisasi mendorong pemerintah Indonesia agar membuka  kemanusiaan  ke  Papua. Dengan berdemo damai  damai serentak  pada, Kamis( 29/4 /2015) di  20  kota pada  10  negara  di  dunia. Solidaritas ini melakukan demonstrasi untuk mendesak pemerintah Indonesia agar  membuka akses bagi jurnalis  asing ke Papua.

“Dalam beberapa tahun terakhir  ini,  jurnalis  dari   Republik  Ceko,  Prancis  dan  Belanda  telah dideportasi karena melaporkan  situasi  politik  damai di Papua. Di Papua,  kekerasan dan intimidasi  terhadap jurnalis lokal dan nasional beresiko tinggi,” tulis Solidaritas Papua, Jakarta Internasional dalam press release yang diterima Jubi, Rabu (29/4/2015).

Dijelaskan, pada  30 Juli 2010, seorang jurnalis, Ardiansyah Matra ditemukan tewas tenggelam di Kali Maro, Merauke setelah menerima  ancaman  yang  berulang  dari  militer  ketika  ia  melakukan  investigasi  pembalakan  hutan. Pada 24 Agustus  2010, Musa  Kondorura  dari  radio  68H  telah diserang  oleh dua  orang  agen Badan Intelijen  Negara  (BIN).

Pada 3 Maret  2011, Banjir  Ambarita,  seorang  jurnalis  dari  Jakarta  Globe  dan  Bintang  Papua  telah  diserang  dan  ditikam  setelah  melaporkan  seorang  polisi yang  melakukan  pemerkosaan  dan  menyebabkan  Kapolresta  Papua Imam  Setiawan  mengundurkan  diri.

Pada  2011,  Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Indonesia telah   mencatat  tujuh  buah  kasus  kekerasan  dan  intimidasi   terhadap  jurnalis.  Pada  2012  kasus  yang  terjadi  meningkat  menjadi  12  peristiwa.  Pada Juli  2013, rumah  seorang  jurnalis  dari  Majalah  Selangkah,  sebuah  media  independen  online  di Kota Jayapura telah  digerebek  dan  digeledah  oleh  orang-orang  yang  tidak  dikenal.

Laporan  yang  terus  berlanjut  atas  terjadinya  pelanggaran  serius  terhadap  hak  asasi  manusia, termasuk tindakan penyiksaan, penghilangan orang secara  paksa,  pembunuhan, penganiayaan  dan  tindakan  merendahkan  martabat,  penggunaan  kekuatan  secara  berlebihan dan penahanan sewenang-wenang  terhadap  orang-orang  Papua  oleh  aparat  keamanan  Indonesia.

Pada  Agustus  tahun  lalu,  seorang  aktivis  dari  Komite  Nasional  Papua  Barat  (KNPB)  telah diculik, disiksa, dibunuh dan mayatnya  dibuang  ke  sungai. Tidak  ada  penyelidikan  dari  polisi  dan  hanya  beberapa  media  mempublikasi  hal  ini.

Maret 2015  lalu,  setidaknya  enam orang  ditembak  dan  21  orang  lainnya ditangkap  oleh  aparat  di  Polda  Papua  dan  Brimob  di  Kabupaten Yahukimo.  Obang  Sengenil,  seorang  kepada  desa  berusia  48  tahun  meninggal  karena  luka  tembak.

Kebebasan dan keterbukaan  akses  untuk  Papua  bagi  jurnalis,  organisasi  kemanusiaan  dan organisasi HAM internasional  akan  melayani  upaya  untuk  mendorong  perlindungan  dan  penghormatan  terhadap  HAM  bagi  orang  Papua  dan  bagi  semua  orang  yang  menyebut  tanah  Papua  adalah  rumah  mereka.

Penghentian terhadap pembatasan akses untuk Papua  tidak  hanya  sesuai  dengan  kewajiban internasional pemerintah Indonesia tetapi juga akan memperkuat posisi  Indonesia  sebagai  negara  yang tidak demokratis.

Oleh  karenanya, Solidaritas Papua, Jakarta dan Internasioanal meminta  pemerintah  Indonesia  agar 

Pertama,  menghentikan  kekerasan  dan  intimidasi  terhadap  jurnalis  di  Papua,  melakukan   penyelidikan  atas  dugaan  tindakan  kekerasan  dan  membawa  pelaku  yang  terlibat  dalam  proses  hukum.

Kedua, menghapuskan  semua  pembatasan  kunjungan  oleh  jurnalis  asing  ke  Papua  dan  pembatasan  kebebasan  untuk  membangun  gerakan  di  dalam  Papua,  termasuk  sistem  pengajuan  visa  yang  diseleksi  oleh  clearing  house dari  pemerintah.

Ke tiga, menyediakan  akses  bagi  organisasi  kemanusiaan  dan  organisasi  HAM  internasional  untuk menjalankan  pekerjaan  mereka  tanpa  ketakutan  dari  pembatasan  dan  dijamin  sesuai  dengan  standar  HAM  internasional.

Keempat, membuka  ruang  kebebasan  dan  akses  pembatasan  bagi  semua  pelapor  khusus  PBB  yang  bermaksud  untuk  berkunjung  dan  melaporkan  situasi  di  Papua.  Secara  khusus,  pemerintah  Indonesia  harus  mengundang  David  Kaye,  Pelapor  Khusus  PBB  tentang  Kebebasan  Berekspresi  dan  Beropini,  sebagaimana  janji  dalam  Peninjauan  Berkala  Universal  di  Jenewa  tahun  2012.

Solidaritas Papua, Jakarta dan Luar Negeri yang terdiri dari 40-an organisasi yang secara serentak melakukan aksi demonstrasi damai di Jakarta, Australia, Pasifik dan Eropah untuk meminta pemerintah Indonesia agar membuka akses jurnalis asing ke Papua.(Arnold Belau/Domnggus Mampioper)

Berikut FOTO Gempar








Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA