Bebaskan Manusia dan SDA Papua - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » , » Bebaskan Manusia dan SDA Papua

Bebaskan Manusia dan SDA Papua

Written By Suara Wiyaimana Papua on Jumat, 10 April 2015 | Jumat, April 10, 2015

Ilustrasi. Foto: Ist.

Oleh, Sanimala Bastian

Benar bahwa inti pertentangan dunia adalah kepentingan ekonomi. Sejak revolusi industri dan negara-negara pengembangnya menyadari negerinya yang kerdil sumber alam bagi tetap mengepulnya asap pabrik untuk hidupnya industri, mereka telah berlayar jauh ke pelosok dunia untuk mencari dan menemukan daerah-daerah taklukan baru yang sekiranya dapat mereka gunakan sebagai daerah jajahan tempat menjarah sumber daya alam. 

Ini pada dasarnya memang tidak etis, tidak beradab, tidak manusiawi. Tetapi itulah yang terjadi. Maka, dari pihak negara-negara revolusi industri awal, dimulailah zaman ekspansi besar-besaran terhadap tanah dan wilayah bangsa-bangsa lain di dunia. Sementara bangsa-bangsa pribumi di dunia dijajah, dijarah kekayaan alamnya, dan manusianya diperlakukan tidak manusiawi, demi kelangsungan sistem yang bersifat mengeruk dan menjajah dari para negera ekspansi demi tetap mengepulnya asap pabrik.

Ringkasnya, setiap bangsa sebenarnya mengalami sebuah proses metamorfosis ekonomi dari satu masa ke masa lainnya dengan tingkat kecepatan perubahan yang berbeda-beda, tergantung faktor-faktor yang memengaruhinya.

Secara teoritis, dikemukakan Adam Smith melalui Subandi (2011:45), ada lima (5) tahap pertumbuhan ekonomi, yang secara berurutan adalah sebagai berikut. Dimulai dari masa perburuan, masa beternak, masa bercocok tanam, masa perdagangan, dan yang terakhir adalah tahap perindustrian.

Walt Whitman Rostow (1960), dalam buku terkenalnya, The Stages of Economic Growth mengemukakan lima (5) tahap pertumbuhan ekonomi juga. 

Tahapan Rostow dimulai dari tahap tradisional, tahap prasyarat lepas landas, tahap lepas landas, tahap ke arah kedewasaan, dan tahap konsumsi tinggi. Penting disini untuk kita simak apa teori Werner Sombar, ekonom andalan yang hidup jauh sebelum Rostow. Sombart (1863) membagi pertumbuhan ekonomi dalam 3 kategori besar, yakni zaman perekonomian tertutup, zaman kerajinan dan pertukaran, dan zaman kapital. 

Sombart tampaknya mendukung ide Fredherich List (1789) yang secara gamblang membagi pertumbuhan ekonomi dalam 4 bagian, yakni masa berburu, masa beternak dan bertani, masa bertani dan kerajinan, dan masa industri dan perniagaan.

Hanya Karl Marx dan aliran pendukungnya, menjadi satu-satunya ekonom dan aliran yang pada zamannya yang hingga kini dikenal punya pandangan berbeda. Menurutnya, fase pertumbuhan ekonomi terakhir adalah saat kaum buruh di dunia bersatu dan mengambil alih kekuasaan dan alat-alat  produksi (revolusi sosial) yang memunculkan tatanan sosial yang baru, dimana kelas-kelas dihapuskan, dan pemerintahan sosialis diterapkan untuk kepentingan bersama semua pihak (komunis). 

Papua dengan kekayaan alamnya bak gadis cantik yang diincar semua lelaki di dunia. Ia manis, anggun dan menawan. Dalam kacamata ekonomi, Papua diperhitungkan para kapitalis dunia karena menjadi tanah dengan sumber alam yang menjanjikan buat terus mengepulnya asap pabrik para kapitalis dunia. Ini telah terbukti. Dan sayangnya, bahkan kemerdekaan hakiki orang Papua sebagai bangsa pun ikut tergadai karena bejatnya nafsu kapitalis melalui boneka mereka yang namanya negara Indonesia.

Selama Papua menjadi bagian dari negara Indonesia boneka kapitalisme global, maka kemerdekaan rakyat Papua dalam hal kebebasan memiliki, mengelola dan hidup di atas semua kekayaan alam miliknya terus akan diganggu. 

Misal: UU Penanaman Modal Asing disahkan dan menghapus hak milik tanah, air, udara milik rakyat Papua, sehingga bila negara boneka kapitalisme global tadi yang namanya Indonesia itu mengizinkan para kapitalis bangun perusahaan, rakyat tak punya perlindungan hukum. Kapitalis telah lebih dahulu menetapi UU PMA melalui negara bonekanya yang kebetulan padanya kita berharap lindungan. Ini jelas mimpi siang hari.

Atau, misalnya ketika rakyat asli Papua menganggap hutan penghasil sagu sebagai mama yang memberi makan diganti dengan lahan sawit seperti di Merauke dengan proyek MIFEE. Negara melegitimasi dengan produk hukum, sebagaimana statusnya sebagai boneka kapitalisme global. Karena rakyat Papua menggantungkan harapan hanya kepada negara boneka yang telah lebih dahulu bertekuk lutut pada kaki kapitalisme global, maka itu sekali lagi mimpi di siang hari.

Atau, misalnya bila rakyat bermimpi, karena tanah, air dan udara Papua-lah yang dikelola, maka rakyat Papua pemilik sumber daya alamnya mendapat paling tidak 50% dari total pendapatan per periode. Wacana ini bagi mereka para kapitalis patut ditertawai. Bagaimana tidak? Negara bonekanya, Indonesia ini saja mustahil dapat 50% penghasilan per periode, apalagi rakyat Papua yang akan menuntut hak 50% bermodalkan status pemilik SDA. Kapitalisme global itu rakus, ingin menguasai, dan wataknya itu sudah lama ia tunjukkan. Rakyat Papua cukup hanya jadi buruh kasar dan diupah rendah. Tenaga ahli tetap dari negara-negara kapitalis. Rakyat Papua masih bermimpi bagi hasil? Jelas, sekali lagi, ini mimpi di siang hari.

Sementara negara boneka kapitalisme global yang namanya Indonesia telah menyeret Papua untuk ikut menjadi korban bejatnya kapitalisme global dan kini akan terus memproduksi produk hukum yang menguntungkan kapitalisme global dan merugikan rakyat Papua pemilik tanah, air udara dan semua kekayaan yang terkandung di dalamnya.

Sementara itu, Universitas-universitas di Indonesia akan terus memproduksi ekonom-ekonom Indonesia yang berwatak kapitalistik, berpikiran lakunya kapitalis. Kampus-kampus akan mencetak aktor-aktor pengendali negara boneka ini agar seturut kehendak para kapitalis global. Di antara mereka, ada juga anak-anak Papua turut serta. 

Sementara itu, tanah, air, udara dan semua kekayaan alam lainnya yang sudah dan telah mulai dipatok tersebut akan terus dieksploitasi dengan dukungan penuh negara Indonesia boneka kapitalisme global melalui aparat keamanan Indonesia yang tentu saja tak hirau dengan hak masyarakat adat, dan menembak mati bila perlu, demi terus dikeruknya sumber daya alam bangsa Papua kita.

Sementara anak-anak bangsa Papua ditembak mati depan mata saat mempertahankan sejengkal tanah, air dan udara miliknya yang diyakininya sebagai milik leluhur bangsa Papua yang menjadi warisannya. Sementara secara keseluruhan, jumlah orang asli Papua terus menjadi minoritas, apalagi dengan migran dari luar Papua yang semakin tak terbendung. Lihat! Gubernur Papua, MRP, DPRP dan jajarannya jadi raja-raja kecil yang manut pemerintahan boneka kapitalisme global dan abai pada suara rakyat asli Papua yang diwakilinya.

Semuanya itu merongrong kemerdekaan hidup bangsa Papua kita di atas teritori tanah air Papua yang adalah milik pusaka bangsa Papua yang telah ada sejak zaman dahulu kala itu. Dan ini mestinya tak dibiarkan begitu saja terjadi oleh setiap anak negeri Papua yang cinta hidup damai. 

Pertanyaannya adalah, jalan apa yang dapat mengembalikan kemerdekaan hidup kita yang penuh harmoni di atas tanah leluhur bersama segenap kekayaan alam kita itu?

Pilihannya jelas, pertama, berusaha dan berdaya upaya menjadikan negara Indonesia boneka kapitalisme global ini tak lagi menjadi tuan dari rakyat Papua, alias bangsa Papua menyatakan kemerdekaannya sebagai sebuah bangsa, dan dengan demikian, juga memutus mata rantai sistem ekonomi kapitalistik yang menjadikan rakyat Papua dan sumber daya alamnya yang kaya sebagai obyek pembesar industri negara-negara kapitalis global. 

Solusinya Papua merdeka 100% dengan maksud membebaskan manusia dan sumber daya alam Papua: tanah, air, udara, dan semua yang terkandung di dalamnya. Merdeka politik dan merdeka ekonomi. Ini tidak main-main. Ini karena rakyat Papua sadar mereka tak harus menjadi obyek industri dunia dengan hanya menyediakan sumber alam, sementara rakyatnya melarat dan mandi darah. 

Bukan negara-negara kapitalis, bukan pula negara Indonesia boneka kapitalisme global, rakyat Papua pemilik SDAlah yang mestinya menjadi aktor ekonomi di Papua dan berpartisipasi membangun stabilitas ekonomi dunia.

Penulis adalah mahasiswa Papua.

Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA