AKU PAPUA - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » » AKU PAPUA

AKU PAPUA

Written By Suara Wiyaimana Papua on Selasa, 20 Januari 2015 | Selasa, Januari 20, 2015

AKU PAPUA
Oleh : YANCE AWEGAPAI GOBAI.ST.MM
Tanah Papua, tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi, seluas tanah sebanyak madu adalah harta harapan. Tanah papua tanah leluhur, disana aku lahir. Bersama angin, bersama daun aku dibesarkan. Hitam kulit Keriting rambut aku papua. Biar nanti, langit terbela, Aku PAPUA.
Mari kita memahami arti dan makna yang terkandung dalam lirikan lagu diatas ini. Tanah yang kaya, bukan hanya emas, perak, tembaga, minyak bumi dan kekayaan alam lainnya saja, tetapi juga kekayaan budaya. Tanah Papua mendiami sekitar 250 suku yang memiliki karakter budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Konteks ini bukanlah sesuatu yang memisahkan antara satu suku dengan suku yang lainnya, tetapi itulah kekayaan warisan leluhur yang perlu kita lestarikan secara kontinu atau regenerasi.
Biar bagaimanapun dan sampai kapan pun kami orang Papua tetap hitam kulit dan keriting rambut dan patut kita syukuri kepada Sang Pencipta. Sehingga kita tidak perlu menyangkal terhadap diri sendiri karena itulah kita orang Papua. Perlu diperhatikan oleh setiap individu bahwa perlu menggali dan mempertahan kepapuaan atau jati diri supaya tidak terdoktrin dengan pengaruh deskriminasi yang menyudutkan harkat dan martabat manusia. Jangan sampai ada orang Papua yang tidak tahu identitas diri kemudian memaksakan diri orang Papua, ini persoalan besar yang perlu diselesaikan.
Lirik lagu aku Papua ini memberikan pesan persuasif kepada orang Papua agar eksistensi identitas rumpun malanesia tetap eksis. Namun, sayangnya kini mengikuti arus budaya modern sehingga menghancurkan dan melecehkan identitas diri. Realitas kehidupan sosial kontemporer ini, orang ingin tampil beda di mata orang lain sehingga mengadopsi budaya bangsa lain dan melakukan tanpa menyadari bahwa telah menagagung-agungkan budaya bangsa lain yang konon tidak cocok dengan konteks kehidupan masyarakat Papua, kemudian melupakan dan melecehkan budaya atau identitas sendiri, seperti yang dikatakan.
”Ciri khas bangsa yang sedang hancur adalah melupakan identitas sendiri sambil mengimani identitas bangsa lain, kemudian melecehkan kembali identitasnya sendiri”. Kalau merasa diri telah berada dalam posisi seperti ini, berarti jelaslah bahwa kita sedang dijajah dari sisi budaya.
Pepata mengatakan “tiada seorangpun yang berhak membatasi aktifitas orang lain tetapi boleh mengingatkan”. Banyak orang Papua wanita dan pria baik tuah maupun yang muda telah terpengaruh dengan budaya bangsa lain hingga terlihat kehilangan etika dimata masyarakat. Dengan budaya itu mereka percaya diri dan merasa diri telah mengikuti perkembangan zaman yang selalu berubah itu, tetapi sebenarnya mereka adalah korban dari perkembangan modern itu sendiri, karena kita melupakan budaya dan identitas yang telah ada sejak awal mula. Seharusnya kita memperkuat dan melestarikan jati diri kita kemudian budaya modern sebagai pelengkap karena kita juga tidak pungkiri bahwa budaya modern tidak semuanya negatif , namun ada juga yang positif tergantung kita memfilter.
Sebagian besar orang Papua merasa bahwa budayanya sudah ketinggalan jaman (kuno) sehingga mengagung-agungkan budaya bangsa lain dan melupakan budayanya yang merupakan jati diri. Dalam konteks tersebut, iklan-iklan deskrimanasi ras juga selalu ditayangkan di layar kaca maupun melalui mejalah dan media cetak lainnya berupa alat-alat pemutih wajah, tidak perna ada tayangan alat-alat penghitam wajah. Ini berarti benih-benih sejarah politik apartheid masih ada di Negara ini. Ini bagian dari pada usaha Indonesia untuk mematikan karakter dan budaya orang Papua.
Deskriminasi Ras
Pelecehan identitas diri selain dari yang dimaksudkan diatas ini yang sangat berpengaruh negatif hingga akhirnya berujung pada hilangnya ras, suku, bahasa, dan budaya asli yang telah ada sejak awal mula adalah nika silang. Meskipun demikian, ada yang mengatakan bahwa “hitam terus bosan, cari yang putih dulu”, lebih parah lagi pria yang mendapat wanita ras melayu dan yang lainnya , sombongnya terasa dunia menjadi miliknya. Ini memang hak untuk menentukan dan memilih pendamping hidup, tetapi sayangnya kita tidak berpikir lebih jauh kedepan eksistensi ras malanesia yang kini hampir puna itu.
Setelah selesai kegiatan, ada salah seorang bapa mendekati dan berbincang dengan saya, memperkenal nama. Kemudian ia bertanya “mas pengen nika dengan orang mana?” saya tidak menjawab, ia melanjutkan “mas katanya cewe orang sana (Papua) ngga tahu gunakan duit, boros dan keras kepala toh? Nika dengan orang sini aja (Jawa), yang hatinya ramah, baik, pintar ngatur duit, biar ganti keturunanmu jadi putih. Kalau mas mau, anak saya kuliah semester dua (II), yang penting mas pindah agama”. Saya tidak berbicara banyak, kemudian bertanya “mas, mas anggap orang Papua itu seperti apa?” ia mengatakan “ngga aku cuma kasih tahu aja.”
Kutipan pengalaman diatas ini membuktikan bahwa banyak generasi muda Papua terjebak dengan tawaran murahan ini. Mereka (generasi muda Papua) terjebak karena intelektualitasnya dangkal dalam menanggapi konteks tersebut. Menerima tawaran tersebut tanpa menyadari bahwa itu merupakan deskriminasi ras yang menyudutkan atau menginjak-injak harkat dan martabat orang Papua.
Lebih para lagi sekelompok pemuda Papua sendiri yang membicarakan tentang paha putih itu pada 10 November 2011. Serombongan pemuda duduk dibawah pohon ketepan sambil bercerita, pada saat itu juga kebetulan ada empat wanita melayu lewat kemudian ada beberapa pemuda mengatakan sambil membuang pandangan mata ke arah mereka “aduh, paha putih seh, hitam terus bosan ini”, kemudian suasanapun bangkit membahas soal putih tadi.
Ketika itu salah seorang pemuda diantara mereka terdiam dan mendengarkan perbincangan mereka dengan rauk muka yang sangat marah. Kemudian salah satu pemuda menanyakan kepada pemuda yang terdiam tadi, “woee pace, kenapa ko diam? Barang enak baru” cobah cari yang paha putih biar anakmu juga putih dan manis lagi. Pemuda itu, masih tetap saja terdiam dan beberapa menit kemudian, lalu merespon sambil senyum, “bro juga hitam tetapi mengapa bro mengatakan demikian, apa kata orang nanti, bro kalau memang jodoh trapapa, tetapi apakah bro tauh eksistensi suku, ras, dan bahasamu kedepan.? Tak seorangpun bicara hingga suasana tenang teduh hanya bisikan angin siang yang terdengar selama beberapa menit. Pemuda itu sangat marah terhadap perbincangan teman-temannya tadi pergi meninggalkan mereka.
Pengalaman diatas ini membuktikan bahwa, disamping deskriminasi ras yang dilakukan oleh ras lain di negara ini, kita generasi muda Papua pada umumnya juga terdoktrin dengan deskriminasi tersebut hingga menjelekkan ras sendiri. Kita perlu menyadari dalam menanggapi situasi ini agar eksistensi ras melanesia tetap terjaga. Menurut Frantz Fanon dikutip, Aditjondro (dalam, Ingurah Suryawan, 2013:73) mengatakan, praktik kolonialisme Barat biasanya didukung oleh teori-teori kebudayaan yang bersifat rasialis. Pada tahap awal penjajah menganggap bangsa jajahannya tidak memiliki kebudayaan, kemudian mengakui bahwa bangsa jajahannya memiliki kebudayaan namun tetap tidak dihargai karena dianggap statis dan tidak berkembang. Kebudayaan bangsa jajahan kemudian ditempatkan dalam strata “rendah” sementara kebudayaan penjajah ditempatkan dalam strata “tinggi” dalam satu hierarki kebudayaan yang sengaja diciptakan untuk melegitimasi dominasi penjajah atas bangsa jajahannya.
Berikut ini sebagai contoh sekaligus memperkuat argumen Frantz Fanon diatas ini. Pengakuan negara terhadap budaya lokal: Dalam pasal 2 ayat (9) UU/32/2004 disebutkan “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pasal 1 huruf g, UU/21/2001 yang dimaksud MRP adalah representasi cultural orang asli papua, yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli papua dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya, pemberdayaan perempuan, dan pemantapan kerukunan hidup beragama sebagaimana diatur dalam undang-undang. Namun, ini hanya formalitas sehingga tidak didukung oleh implementasi yang baik, berhenti diatas kertas putih bahkan negara sendiri yang melanggar aturan tersebut.
Kepunaan Bahasa Daerah Papua
Orang tuah perna mengatakan iniiya manaa kodoya emino meeka nitopaitai (meskipun bahasa kita sendiri, tetapi orang luar yang akan mengajarkan kita.) Ketika mendengar perkataan tersebut saya tidak percaya tetapi kini sudah mulai nyata dalam kehidupan orang Papua pada umumnya. Dengan adanya pengaruh budaya dan bahasa global membawah dampak buruk terhadap bahasa daerah. Penggunaan bahasa nasional mengakibatkan hilangnya bahasa dearah yang ada secara turun temurun.
Malu Memakai Koteka (Busana Adat)
Mungkin kita tidak mengetahui cerita tentang Operasi Koteka yang terjadi pada tahun 1977 di Wissel maren. Negara ini berusaha menghilangkan busana adat digantikan dengan pakaian modern sebagai salah satu unsur politik dari kolonial dengan penetrasi budaya. Itulah upaya negara ini untuk menanamkan jati diri yang palsu kepada generasi muda Papua pada umumnya dan khususnya suku-suku yang berada di pegunungan tengah Papua.
Realitas membuktikan bahwa negara ini memang berhasil manaklukan budaya sehingga banyak pria yang berasal dari suku di pegunungan tengah Papua mengatakan “Malu Memakai Koteka.” Itulah satu tolok ukur keberhasilan bagi negara ini yang berusaha mengacaukan tatanan hidup. Kita tidak menyadari bahwa koteka merupakan busana adat secara turun temurun yang tentunya perlu dilestarikan.
Melihat konteks ini, sungguh sangat lucu bercampur sedih. Lucu karena koteka merupakan busana adat secara turun-temurun, namun generasi muda sekarang malu memakai. Sedih karena koteka merupakan kekayaan budaya Papua khususnya suku-suku di pegunungan tengah Papua yang kini hampir puna akibat tidak dilestarikan.
Budaya “Fondasi Hidup” (Umii Tou Kabo)
Orang membangun suatu bangunan, berdasarkan fondasi yang kuat agar tetap berdiri kokoh. Begitu juga dengan kehidupan manusia menjalani kehidupan berdasarkan fondasi (budaya) tersebut. Saat ini fondasi orang Papua pada umumnya dan khususnya suku Mee telah rusak hingga terjadi perpecahan dalam kehidupan sosial.
Pemerintah telah berhasil menciptakan ketergantungan masyarakat melalui otonomi khusus (otsus) dengan kucuran dana triliunan rupiah, sehingga budaya kerja sudah tidak ada. Namun, ini masih ada harapan bila kita menyadari, tetapi lebih parah bagi masyarakat yang berada disekitar perusahan, seperti Timika. Lahan yang bisa mereka garap telah menjadi tempat pembuangan tailing/rimba. Sementara masyarakat dimanja dengan dana sisa dari perusahaan.
Dalam konteks seperti diatas ini, di Papua togel muncul ditengah masyarakat hingga merusak tatanan hidup orang papua. Togel adalah metode sistematis yang dilakukan oleh negara untuk membiarkan masyarakat Papua menjadi pragmatis, karena yang memegang bandar adalah TNI dan Polri yang menegakkan hukum serta mengayomi masyarakat pada umumnya (saat ini papua berantakan). Kita dapat uang melalui usaha dan banting tulang, lebih baik daripada mendapatkan uang tanpa usaha karena yang dibutuhkan dalam perjuang adalah “Proses” bukan hasil.
Sepuluh atau dua puluh (10-20) tahun kedepan di Papua akan terjadi fakir miskin yang paling parah, karena kita salah memaknai kasih. Kasih memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kami, sehingga yang perlu dipikirkan adalah kapan dan untuk apa anda kasih, karena kasih itu juga menindas orang Papua sendiri. Oleh karena itu, untuk orang Papua perspektif kasih dan kesuksesan harus rubah.
Negara Berusaha Menghancurkan Budaya
Realitas tatanan hidup masyarakat Papua pada umumnya yang terjadi saat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi politik kolonialis dengan hawa nafsu menaklukan bangsa lain untuk menguasai disegalah aspek kehidupan sosial, dengan jalan: Dominasi Politik, Ekploitasi Ekonomi dan Penetrasi Budaya. Dari hasil penelitian dan analisa tentang “Pembangunan Tanpa Partisipasi Lokal di Provinsi Papua” yang dilakukan oleh Wanaha, dkk (2000) dalam Adriano (2001: 59-61) akhirnya diperoleh beberapa kesimpulan sebagai sari penelitian, yaitu:
Pertama, ada aksi dan reaksi ketidakpuasan terhadap kebijakan pembangunan yang top down dimana negara terlalu dominan mengatur segala tetek-bengek dari atas sampai ke bawah dengan lebih mengedepankan pendekatan stabilitas dan keamanan menyebabkan masyarakat etnis Mee di lokasi penelitian tidak berdaya untuk memberikan kontribusinya secara maksimal terhadap proses pembangunan di daerahnya.
Kedua, pada akhirnya apa saja yang dipandang “kuno, tradisional dan primitif” dan tidak mengalami perubahan dengan sendirinya dianggap sebagai keterbelakangan. Dalam konteks penelitian khususnya aspek ini ditemukan bahwa nilai-nilai budaya tradisional yang dijunjung tinggi oleh penduduk lokal dianggap sebagai penghambat. Para pembaharu dan perancang pembangunan menganggap masyarakat lokal “tidak memiliki budaya” sehingga patut “diberikan budaya baru” untuk menggantikan budaya tradisional mereka yang dianggap primitif dan patut diganti dengan budaya modern. Karena itu dalam perencanaan pembangunan, salah satu hal yang diusahakan adalah “mengutuk” dan mengubah bahkan menyingkirkan kebudayaan tradisional itu. Hal ini menurut Wanaha, dkk (2000) membuat masyarakat frustrasi karena mereka tidak ditolong untuk mengenal “jati diri” mereka.
Berangkat dari beberapa hal diatas ini, jelaslah segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia atas nama pembangunan dan kesejahteraan dengan cara-cara represif sambil menghilangkan budaya setempat untuk menanamkan jati diri palsu kepada masyarakat Papua. Konteks ini telah melahirkan perpecahan dan resistensi masyarakat terhadap pemerintah yang bersembunyi dibalik argumen “kesejahteraan dan pembangunan” yang tidak mengindahkan eksistensi budaya setempat. Dewasa ini, budaya masyarakat telah rusak sehingga mudah terdoktrin dengan budaya luar, kemudian menjelekkan budayanya sendiri, karena memang karakter orang Papua sudah dibunuh demi kepentingan ekonomi politik di Papua.
Pembunuhan karakter yang dilakukan oleh negara ini dengan cara teror dan propaganda politik serta pemukulan kepada masyarakat agar turut berpartisipasi dalam agenda yang dijalankan oleh negara, meskipun bertentangan nilai-nilai budaya setempat bahkan ancaman bagi kelangsungan hidup masyarakat. Konteks ini merupakan banalitas kejahatan yang dianggap hal yang biasa dan wajar oleh sang pelaku (militer) sehingga meperlakukan masyarakat secara sewenang-wenang atas nama stabilitas negara.
Mempertahankan Budaya
Kita berbicara mempertahankan budaya, bukan berarti kita menutup diri dan menjauh dari perkembangan jaman. Tetapi yang saya maksudkan disini adalah mengikuti perkembangan jaman berdasarkan budaya yang ada. Untuk itu, kita perlu menanamkan jiwa rasa memiliki dalam diri setiap individu, karena itu akan membuat kita mampu melihat persoalan, terutama “persoalan budaya” yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Papua
Disamping itu, perlu adanya kesadaran totalitas akan eksistensi diri dalam kehidupan aras lokal maupun nasional. Berdasarkan kesadaran tersebut, ada tiga hal pokok penting agar dapat mempertahankan atau meng-update budaya, yakni: pertama, pengetahuan; kedua, teknologi dan informasi; dan ketiga, alat produksi. Ketiga hal merupakan satu paket, kunci utama yang perlu dimiliki oleh orang Papua pada umumnya dan khususnya Meeuwo, karena itulah pintu masuk budaya luar untuk menghancurkan budaya lokal.
Kesimpulan
Bila kita melihat dan mempelajari sejarah perkembangan kolonialisme dibelahan bumi ini, tidak ada satupun bangsa dan negara yang memperhatikan harkat dan martabat bangsa yang sedang dijajah, selain menindas, membunuh, memperkosa, mengeksploitasi, penetrasi budaya dan lain-lain. Semua perbuatan dan perlakuan itu, disembunyikan semaksimal mungkin agar dunia luar tidak mengetahui sambil mengembangkan isu melalui media massa (elektronik maupun cetak) bahwa benar-benar memperhatikan kehidupan bangsa tersebut di semua lini kehidupan.
Semua jerit dan tangis anak bangsa tak keluar dari rotasi kehidupan yang telah ditentukan oleh penguasa, hingga tak ada kata peduli membising ditelinga sang korban. Semua itu, dunia akan mengerti dan merasakan ketika meletakkan kepentingan demi harkat dan martabat bangsa yang sedang dijajah. Harapan akan kepedulian anak bangsa kepada bangsa lain yang perna mendapatkan pengalaman yang sama, namun, itu bukanlah alternatif terakhir dari sebuah perjuangan karena kolonialisme juga kadang dilakukan oleh bangsa dan negara yang mengalami pengalaman serupa (dendam sejarah). Ada jalan lain yang mesti harus ditempuh untuk menunjukan harga diri sebuah bangsa yang sedang diinjak-injak oleh bangsa lain.
Jalan lain yang saya maksudkan itu berawal dari sebuah kesadaran totalitas akan eksistensi identitas dalam pertarungan politik kepentingan yang menyudutkan martabat bangsa sedang porak-poranda. Kesadaran eksistensi identitas, membuat anak bangsa mengerti atas apa yang terjadi dalam kehidupan sosial, karena disana terletak apa yang kita sebut "harga diri" sebuah bangsa. Segala usaha dan upaya sang kolonialis selalu diarahkan untuk menghancurkan budaya bangsa yang sedang dijajah yang dimainkan melalui sistem maupun aktivitas dalam kehidupannya karena budaya merupakan dasar hidup sebuah bangsa.

Disamping itu, kemajuan modernitas yang seamkin canggih membuat orang semakin lupa diri sendiri dan merasa dirinya telah mengikuti perkembangan jaman yang semakin berkembang itu, tetapi disisi lain orang seperti itu melangkah tanpa fondasi yang kuat sehingga mudah terdoktrin dengan pengaruh negatif yang datang dari luar hingga menginjak-injak identitasnya sendiri. Sebenarnya mereka tidak sadar, jika mereka adalah korban kemajuan tersebut. Seharusnya mengikuti perkembangan jaman berdasarkan fondasi hidup yang kuat, karena itu akan membuat setiap orang mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk serta benar dan yang salah serta mana kawan dan lawan dalam menghadapi perkembangan itu sendiri.
Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA