Polisi Dinilai Tutupi Fakta Soal Penembakan Lima Warga Sipil di Paniai - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » » Polisi Dinilai Tutupi Fakta Soal Penembakan Lima Warga Sipil di Paniai

Polisi Dinilai Tutupi Fakta Soal Penembakan Lima Warga Sipil di Paniai

Written By Suara Wiyaimana Papua on Rabu, 10 Desember 2014 | Rabu, Desember 10, 2014

Koalisi Masyarakat Sipil Papua, Dewan Adat Daerah Paniai, Sinode Kingmi Papua dan Jaringan Kerja HAM Perempuan Papua, saat Jumpa Pers (Jubi/Arnold Belau)
Jayapura, Jubi – Koalisi Masyarakat Sipil Papua, Dewan Adat Daerah Paniai, Sinode Kingmi Papua dan Jaringan Kerja HAM Perempuan Papua menilai, polisi sedang menutupi fakta yang sesungguhnya terjadi dalam insiden penembakan di Paniai,  8 Desember 2014 lalu, dengan isu-isu lain.
Ketua Dewan Adat Daerah Paniai, Jhon NR Gobay mengatakan, sesungguhnya aparat telah melakukan satu tindakan brutal. Tindakan aparat nyaris seperti perlakuan terhadap buronan penjahat besar atau teroris yang mengancam negara.
“Selama saya pimpin DAP daerah Paniai, ini adalah satu perlakuan yang luar biasa. Yang lebih gila lagi, penembakan ini dilakukan terhadap anak-anak sekolah. Generasi penerus bangsa ini. Ini sangat brutal,” tegas Gobay.
Gobay menuntut polisi tidak menutup-tutupi fakta dengan mengalihkan isu ke isu-isu yang tidak jelas.Hal ini ditegaskan Gobay  kepada wartawan, saat jumpa pers di kantor Aliansi Demokrasi untuk Papua (ALDP), Selasa (9/12) di Padang Bulan, Jayapura, Papua.
Sementara itu, koordinator Bersatu Untuk Kebenaran (BUK), Peneas Lokbere mengatakan, aparat gabungan TNI/Polri telah melakukan tindakan brutal.
“Yang menjadi pertanyaan, kenapa aparat tidak tangkap saja. Tapi ini langsung tembak secara membabi buta,  dengan niat memang untuk menghabiskan nyawa,” katanya.
Menurut Lokbere, selama ini, berkaitan dengan berbagai kasus yang dilakukan oleh aparat TNI/Polri di tanah Papua belum pernah mendapat efek jera. Sehingga tindakan-tindakan brutal akan mereka lakukan kapan saja.
Di tempat yang sama, Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Papua, Victor Mambor mengatakan, dalam hal ini, sejak terjadi peristiwa sampai saat ini, polisi terkesan menutupi fakta yang sebenarnya.
“Sehingga sengaja polisi mengaburkan fakta dengan isu-isu yang polisi sendiri ciptakan. Sangat sulit untuk mendapatkan informasi kronologis yang jelas. Bisa jadi, ini upaya yang dilakukan untuk menghilangkan fakta yang sebenarnya,” katanya.
Menurut Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Jayapura ini, polisi semestinya lebih profesional dalam memberikan informasi untuk kepentingan media massa karena polisi memiliki sumberdaya informasi yang memadai.

“Menurut saya, sudah bukan jamannya lagi polisi berkata : sebentar, masih kumpul data.  Sebab faktanya, polisi bisa mengumpulkan informasi tentang seseorang yang diduga sebagai teroris. Akibatnya apa? Informasi yang beredar simpang siur. Wartawan kemudian menggunakan sumber informasi yang bisa mereka dapatkan secepat mungkin. Ini tuntutan media, tuntutan publik.” lanjut Mambor.

Fince Yarangga, Koordinator jaringan Kerja HAM Perempuan Papua Tiki mengatakan, terkait kasus yang terjadi di Paniai, pihaknya telah mengirim surat kepada presiden republik Indonesia, Joko Widodo.
“Kami sudah kirim surat ke Jokowi. Isinya, pertama: minta Jokowi tarik militer dari Paniai dan seluruh tanah Papua. Kedua, meminta Jokowi untuk segera duduk dengan orang Papua untuk bicara masalah yang ada,” ungkap perempuan yang akrab disapa mama Fin ini.
Menanggapi situasi kekerasan Negara terhadap masyarakat sipil di Enarotali, Koalisi Masyarakat Sipil Papua, Dewan Adat Daerah Paniai, Sinode Kingmi Papua menilai dan Jaringan Kerja HAM Perempuan Papua meminta agar; Pertama, Presiden Joko Widodo meminta maaf kepada keluarga korban, masyarakat adat Paniai dan masyarakat Papua seluruhnya.
Kedua,  Komnas HAM segera membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM, guna mengusut tuntas perkara dugaan pembunuhan kilat di Enarotali.
Ketiga, Kapolda dan Pangdam diminta, harus membayar ganti rugi sesuai tuntutan dewan adat daerah Paniai.
Keempat, Kapolda dan pangdam memulihkan keamanan dan kenyamanan.
Dan yang terakhir, Pemerintah daerah provinsi Papua dan kabuapten Paniai memberikan perawatan medis dan psikologis kepada semua korban hingga pulih. (Arnold Belau)

Sumber:tabloidjubi.com


Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA