INGIN KETEMU JOKOWI, MAU MINTA MERDEKA - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » , » INGIN KETEMU JOKOWI, MAU MINTA MERDEKA

INGIN KETEMU JOKOWI, MAU MINTA MERDEKA

Written By Suara Wiyaimana Papua on Minggu, 14 Desember 2014 | Minggu, Desember 14, 2014

TPN-PB/OPM Wilayah Lapago

Bagi Puron Wenda dan Enden Wanimbo PEPERA belum final, masih menyisakan sejumlah ganjalan dan ketidakpuasan atas prosesnya. Mereka tidak terlalu percaya lagi dengan kelompok sempalan yang berkeliaran di kota, kalau memungkinkan keduanya ingin bertemu langsung dengan Presiden RI, Joko Widodo, tujuannya hanya satu, minta Papua merdeka.

Oleh : Walhamri Wahid

Puron Wenda. (Foto : Doc.SP)
Embun pagi membasahi rerumputan yang rata akibat pijakan kaki pasukan yang menari semalaman, tidak mampu membendung hawa dingin pegunungan menembus sela – sela tenda yang kami tiduri, memaksa kami membelalakkan mata untuk sekedar bangun menikmati pendaran mentari di ufuk timur.
Sekitar jam 6.00 WIT, Puron Wenda dan Enden Wanimbo sudah muncul di “markas” tersebut menyapa kami yang baru saja terbangun dari lelapnya malam.
Secangkir teh hangat dan ubi bakar menjadi menu pembuka pagi itu, setelah berkenalan kami duduk berhadap – hadapan dalam lingkaran kecil mendiskusikan banyak hal mulai dari kehidupan mereka sehari – hari selama di hutan, hingga kondisi kota dan perkembangan pergerakan di manca negara, khususnya di Vanuatu.
“mereka semua ini pejuang kemerdekaan, dengan kondisi sulit mereka masih tetap semangat, selain di sini, ada beberapa kantong – kantong kami (markas – markas kecil-red) kami baik di hutan, di perkampungan, bahkan di tengah kota, semua menyebar”, kata Puron Wenda menceritakan sedikit soal pasukannya.
Enden Wanimbo. (Foto : Doc.SP)
Puron Wenda dan Enden Wanimbo menjelaskan bahwa di kawasan pegunungan tersebut ada dua markas, yang pertama adalah yang ditempati oleh pasukannya, sedangkan satu markas lagi ditempati oleh mereka dan beberapa orang pengawal khusus.
“tidak jauh, kelihatan dari sini mo”, kata Enden sambil menunjuk ke satu titik di kejauhan di balik sebuah gunung yang lebih rendah dari tempat kami berada.
Secara kasat mata memang lokasi markas para petinggi TPN/OPM tersebut dekat, namun apabila di telusuri dengan jalan kaki, jarak tempuhnya bisa makan waktu 2 – 3 jam karena harus melewati perbukitan dan medan yang sulit.
Di sela – sela obrolan kami pagi itu, beberapa anggota yang sudah terbangun langsung mempersiapkan beberapa peralatan untuk upacara 1 Desember dan pernyataan sikap resmi yang akan di sampaikan oleh kedua Komandan mereka, Puron Wenda dan Enden Wanimbo.
Mereka terlihat mempersiapkan sebuah colar cell sebagai satu – satunya sumber energi untuk menghidupkan loudspeker yang sudah mereka siapkan, louspeker ini sehari – hari mereka gunakan sebagai pengeras suara untuk memutar lagu – lagu perjuangan sebagai penyemangat, atau sekedar untuk menghibur mereka mengisi waktu.
Tampak beberapa anak kecil usia sekolah mulai terbangun dan asyik bermain – main di sekitar markas, beberapa orang perempuan juga terlihat mulai menjalankan aktifitas seperti biasanya, mereka mulai bersiap – siap menggarap beberapa kebun kecil yang berserakan di kaki bukit sekitar markas.
“mereka mau sekolah dimana, disini tidak ada sekolah, dan tidak ada pengajar, mereka ini calon – calon penerus perjuangan kami, makanya mental dan fisiknya sudah terbentuk sejak kecil”, jawab Enden Wanimbo ketika SULUH PAPUA menanyakan mengapa anak – anak kecil tersebut tidak di titipkan di kampung agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak, minimal bisa baca dan tulis.
Aktivitas pasukan setiap harinya selain melakukan rolling penjagaan di beberapa pos, sesekali mereka juga melakukan latihan militer, sedangkan kaum perempuan yang adalah istri – istri dari pasukan yang bertanggung jawab urusan belakang, yakni mengolah pertanian untuk memenuhi kebutuhan makan pasukan.
Namun sesekali juga para lelaki membantu istri – istri mereka untuk mengolah kebun, khususnya saat mulai membuka areal perkebunan pada awalnya, kalau sudah menanam dan panen biasanya perempuan yang kerja.
“kalau dapat buruan babi, yah, torang makan daging babi, kalau tidak ada, kami sudah terbiasa dengan makan apa yang ada di alam”, kata Puron Wenda ketika di tanya soal makanan pasukannya.
Dari sekian ratus pasukannya, Puron menjelaskan mereka memiliki skill yang berbeda – beda, ada yang spesial sniper (penembak jitu), ada pasukan serbu, bahkan mereka juga memiliki intelijen yang selalu memasok informasi maupun mengurusi kepentingan kelompok ini dengan dunia luar baik di dalam Kota Wamena, Jayapura, bahkan dunia internasional.
“Pasukan intelijen kami tersebar di dalam kota Tiom dan Wamena, kami juga ada sniper yang selalu stanby di tiap pos pengintai, dan yang ada di sini ini semuanya terbanyak pasukan serbu, yang siap melakukan kontak senjata kapan saja”, jelas Puron Wenda membocorkan kekuatan pasukannya.
Dari pantauan SULUH PAPUA, tidak semua pasukan memegang senjata benaran, nampaknya ada beberapa anggota yang sudah terlatih saja yang di percayakan memegang senjata, sedangkan lainnya ada yang memegang senapan angin, panah dan alat perang tradisional lainnya.
Sekitar 2 jam lebih SULUH PAPUA bercengkerama dengan Puron Wenda dan Enden Wanimbo, meski area untuk upacara telah disiapkan, demikian juga sound system sudah siap, namun belum ada tanda – tanda untuk memulai acara.
“kita tunggu pasukan dari Ilaga tiba dulu, laporan terakhir mereka sudah di perjalanan dan tidak lama lagi tiba”, kata Enden Wanimbo saat seorang Komandan Regu melaporkan bahwa tempat sudah siap.
Tak lama berselang, segerombolan pasukan tiba di markas, setelah perkenalan dan ramah tamah, kemudian acara siap di mulai.
Rupanya ada 3 pasukan dari kelompok yang berbeda yang ikut upacara 1 Desember kemarin di Markas Malaganery, yakni pasukan dari Enden Wanimbo, dan pasukan dari Puron Wenda dari Puncak serta kelompok Rambo dari Ilaga.
“ini adeknya Rambo, dia yang pimpin pasukan dari Ilaga sekarang, karena Rambo sudah di tangkap kemarin”, kata Enden memperkenalkan pemimpin kelompok yang baru tiba pagi itu.
Pukul 8.30 WIT, semua pasukan berbaris rapi di tanah lapang depan 3 buah tenda besar sebagai markas mereka.
Tidak ada upaca pengibaran bendera, karena memang bendera Bintang kejora berkibar 24 jam di markas tersebut.
Setelah mempersiapkan barisan, Komandan Upacara melapor, dan akhirnya Puron Wenda dan Enden Wanimbo tampil ke depan untuk membacakan pernyataan sikapnya.
Di sela – sela pernyataan sikapnya, Enden Wanimbo yang memegang sebuah pistol beberapa kali melepaskan tembakan ke arah udara yang di susul dengan rentetan tembakan dari pasukan lainnya yang memegang senjata.
Baik Puron Wenda maupun Enden Wanimbo dalam pernyataan sikapnya kembali menegaskan bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah bukan untuk meminta Otonomi Khusus (Otsus) atau sekedar gula – gula manis untuk kepompok dan pribadi, tapi mereka menginginkan agar Pemerintah memberikan kemerdekaan kepada bangsa Papua melalui Referendum.
“Kami sudah cukup dijajah Indonesia, kami minta merdeka dan menentukan nasib sendiri, kami bukan minta uang, bukan minta pemekaran, kami minta kedaulatan, sudah cukup puluhan tahun dijajah”, tandas Puron Wenda lagi.
Enden Wanimbo juga menambahkan bahwa pemerintahan Presiden Jokowi mestinya bisa lebih peka dan sudah tahu apa yang jadi isi hati orang Papua, sehingga tidak perlu menutup telinga, tapi harus datang dan bicara apa solusinya.
“hanya Jokowi yang bisa kasih kami kemerdekaan, makanya kami ingin bertemu dengan Presiden Jokowi, sehingga kami bisa sampaikan langsung apa yang menjadi permintaan kami, karena kami ingin referendum, bila itu tidak di tanggapi, maka kita akan tetap melakukan aksi yang kami sebut sebagai Revolusi Total”, kata Enden Wanimbo lagi.

(Bersambung)

Sumber:suluhpapua.com/read/2014/12/09/ingin-ketemu-jokowi-mau-minta-merdeka/
Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA