Terror Dan Intimidasi TNI Terhadap Masyarakat Sipil - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » » Terror Dan Intimidasi TNI Terhadap Masyarakat Sipil

Terror Dan Intimidasi TNI Terhadap Masyarakat Sipil

Written By Suara Wiyaimana Papua on Senin, 23 Juni 2014 | Senin, Juni 23, 2014

Ibu. Ancelma Dambujai
(Istri Almarum Nicolaus Yeem)

Merauke, KNPBNews  – Terror dan Intimidasi yang berkepanjangan terus menerus dilakukan oleh TNI PAM Perbatasan terhadap masyarakat sipil di Kampung Kuwel Distrik Eligobel Kabupaten Merauke.

Teror dan intimidasi yang terjadi terus menerus dalam waktu yang lama, Ini bermula dari Komedan Satgas Tuan. Nikolaus Yeem (Alm) sejak ditangkap, dianiaya dan disiksa pada tanggal 11 Januari 2001 di Kali Palda (salah satu tempat di kampung kweel), penangkapan ini terjadi akibat korban dituduh harus bertanggungjawab sebagai komendan Satgas tentang pengibaran bendera Bintang Kejora pada tahun 2000 di kota Merauke. 

Penganiayaan dan penyiksaan ini dilakukan semalam suntuk dalam perjalanan dari kali Palda ke kota Merauke yang jaraknya kurang lebih 100 KM. Dan pada tgl, 12 Januari 2001 korban ditahan di sel polres merauke sampai bulan Mei 2001 dan bulan Juni 2001 dikirim ke lembaga. Korban mengalami proses persidangan sebanyak empat kali yaitu pada tgl 04 Juli 2001 Sidang ke- I, tgl 11 Juli 2001 sidang ke- II, tgl 18 Juli 2001 sidang ke- III dan tgl 25 Juli 2001 sidang ke- IV yang hasil sidangnya korban dibebaskan tanpa syarat karena tidak ada saksi. Setelah dibebaskan korban kenbali ke kampung Kweel Distrik Eligobel Kabupaten Merauke.

Kesakasian Kehidupan Almahrum Nicolaus Yeem saat masi hidup Di daerah perbatasaan Papua.
Saya yang menulis ini adalah salah satu orang pribumi Papua yang hidup di daerah perbatasan Papua Barat dan PNG. Kalau boleh jujur saya mau katakan bahwa hidup menjadi manusia pribumi Papua adalah “indah” dan “saya bangga” menjadi salah satu masyarakat pribumi Papua. 

Namun kehindahandan kebanggaan saya miliki itu ternyata telah menjadi momok yang sangat menakutkan bangsa Indonesia, (Pemerintahan, pasukan TNI dan POLRI) yang berada di sepanjang perbatasan. Di saat pemerintah dan TNI-POLRI yang berada dikabupaten merauke lebih khusus di sepanjang daerah perbatasan mendegarkan nama saya ataupun melihat langsung saya dan berada di depan mereka maka anggapan mereka bahwa mereka sedang mendengarkan atau melihat seorang pengkianat bangsa Indonesia.
Contoh beberapa kasus atau peristiwa baik berbentuk kejadian langsung ataupun tidak
Langsung:
  • ISU
Isu yang sering terjadi karena dibuat menjelang Tgl 1 Desember dalam setiap tahunnya, sejak tahun 2000 hingga saat ini (Tahun 2008) adalah isu akan adanya pengibaran benderah bintang kejora disalah satu daerah di Merauke yang akan dikibarkan oleh saya dan teman-teman orang Papua.
  • NYATA
Pada tanggal 18 juli 2007 saya diisukan oleh komandan Kopasus Bupul I sersan satu Marten beserta anggotanya yang diturunkan lewat kepala kampung Kweel Godefridus Inagijai, ketua Bamuskam Denisius Inagijai, anggota TPN piaraan kopasus Serfinus Gwamerjai, ketua dewan gereja katolik stasi Kweel philipus Geiwaljai, ketua adat kampung Kweel Egenius Beljai. Maka pada Tanggal 22 juli jam 09.1 WPB. Saya dipanggil dan di periksa oleh Danki Pos 312 Siliwangi Kweel (kapten Kadir), katanya bahwa saya sedang kumpulkan kaum muda dari kampung Kweel dan Bupul untuk mengibarkan Bendera Bintang Kejora pada tanggal 01 Agustus 2007 di kali palda (salah satu tempat di kampung kweel) untuk mengcaukan jalanya perayaan 17 Agustus 2007.

Pada tanggal 30 juli 2007 kurang lebih jam 08.15 WPB saya diberentikan di tengah jalan oleh seorang intel Polisi Polikarpus Ululukyanan dan dia katakan bahwa saya akan mengibarkan bendera Bintang kejora di kampung Kweel, maka saya akan ditembak mati di tempat.

Isu itu pada awalnya tanggal 09 juli 2007 Komandan Kopasus Bupul I mengatur dengan kepala kampung Kweel. Dasarnya mereka tidak senang saya mengumpulkan pemuda dari kampung Kweel dan Bupul untuk bekerja mencari kulit gambir (Gemor) dihutan. Maka tanggal 10 juli 2007 jam 08.27 WPB saya dipanggil, diperiksa dan dipukul oleh komandan kopasus Bupul I sersan satu Marten .

Dan sejak itu kopasus di Bupul I ini selalu datang menggunakan kepala kampung, Bamuskam, Dewan gerejad dan ketua adat untuk menekan masyarakat kampung Kweel agar saya diusir keluar dari kampung Kweel. Dan semua ini diatur dan direncanakan oleh kopasus dengan mengunakan kekuatan kepala kampung dan Masyarakatnya untuk mengusir saya dan keluarga keluar dari kampung Kweel.

Tibalah saat yang paling tepat bagi mereka saat itu yaitu pada tanggal 07 Oktober 2007, hari minggu setelah selesai sembayang kopasus dan kepala kampung Kweel mengadakan rapat besar. Disana adir semua kerabat keluarga yang selalu bersama-sama dengan saya dinyatakan sebagai pengkianat bangsa, Pengacau, perusak dan semua kaum muda yang selalu bersama-sama dengan saya dipotret, diambil gambarnya sebagai orang-orang jahat.
Maka semua orang dikampung Kweel saat itu menjadi takut dan Ngeri, maka munculah tuduan kepada saya tampa saya dihadirkan dalam pertemuan itu.
Nicolaus Yeem adalah :
  • Pengkianat bangsa, OPM, separatis, pengacau, penipu, pencuri, penjajah.
  • Orang muyu itu etnis lain tidak bawa tanah dari daerah muyu.
  • Datang berlimdung di kampung Kweel cari makan , kesasar, perusak adat orang Kweel dan hinaan lainnya.
Lalu kopasus memberi 1 kepala pohon wati dengan harga Rp.200.000,- untuk menjadi sah dan diserakan secara adat bahwa saya beserta istri dan anak harus diusir keluar dari kampung Kweel.

Tepat pada tanggal 07 oktober 2007 jam 18.52 WPB saya beserta istri dan anak didatangi oleh utusan pemerintah kampung, utusan adat, Agama, serta toko masyarakat, mereka datang dan menyuruh saya dan keluarga harus segera keluar malam ini juga, tetapi keadaan suda gelap maka saya mengambil keputusan untuk besoknya baru saya dan keluarga keluar dari kampung Kweel.

Padat anggal 18 oktober 2007 tepat jam 08.37 WPB saya beserta keluarga keluar dan tinggalkan kampung Kweel berpindah dan harus pindah. Pindah dari kampung Kweel ke kampung simpati kurang lebih 42 dari kampung Kweel.

Selang waktu satu bulan kemudian tepat pada tanggal 07 November 2007. Saat itu saya telah keluar dari kampung simpati kurang lebih jam 09.22 WPB, setelah saya keluar, menuju kota merauke, dibelangkanya istri saya didatangi oleh dua anggota TNI-312 siliwangi Pos maro. Mereka katakana bahwa saya telah ijinkan mereka ambil tanduk rusa, sedangkan saya sendiri tidak perna bertemu dan sepakat dengan mereka. Istri saya katakana bahwa itu urusan nanti dengan Bapak, Bapak sedang tidak ada saat ini, tetapi dua anggota TNI ini begitu kuat memaksakan kehendak mereka, ditambah lagi dengan sebuah surat yang mereka buat untuk saya yang isinya demikian :

Kepada :
Yth : Bapak Nico
Dengan Hormat,
Sebelumnya saya mohon maaf apabila kurang sopan, karena tanduk yang Bapak punya saya bayar tampa sepengetahuan Bapak. Kalau bapak kurang berkenan Bapak saya tunggu di pos kali Maro dan kita bisa koordinasi selanjutnya…

Hormat saya
Pak Jul

Surat itu ditambah dengan uang Rp 150.000 mereka kasih keistri saya dan langsung mereka  masuk kedalam kamar tidur keluarga dan mereka mencabut tanduk rusa yang saya suda paku kuat balok didalam kamar. Tanduk itu mereka membawah pergi.
Istri dan anak saya mereka begitu takut dan trauma dengan kejadian – kejadian semuanya itu.

Dan sampai saat ini (27 November 2008) saya merasa tidak punya tempat untuk menyampaikan pengalaman hidup yang lebih banyak pahit ini.
  • Kepada siapakah saya harus menyampaikannya ?
  • Siapakah yang akan menjadi penyelamat kami ?

Kesaksian Ibu Ancelina Dambujai Istri dari Almarum Nicolaus Yeem

Sejak Almarum Nicolaus Yeem masi hidup, rumah kami (istri Almarum) di kampung Kweel selalu didatangi oleh kopasus dan tentara pam perbatasan yang berkisar empat sampai lima orang. Ketika kedatangan mereka, Bapak (Almarum Nicolaus Yeem) tidak ada di rumah maka mereka selalu saja  menanyakan pada saya (istri Almarum) yang sifatnya memaksa dan mendesak tentang senjata yang menurut mereka bapak ada simpan, namun Saya (istri Almarum) selalu saja menyampaikan bahwa tidak ada senjata. Dan memang benar bahwa Almarum Nicolaus Yeem tidak memiliki senjata.

Suatu saat saya (Istri Almarum) pergi ke kios dengan tujuan untuk membeli minyak tanah, sebelum sampai ke kios saya bertemu dan bergabung dengan beberapa teman-teman yang lagi duduk-duduk di persimpangan jalan yang jaraknya tidak jauh dari kios tempat pembeli minyak tanah. Selang beberapa menit datang dua anggota tentara pam perbatasan, sala satunya bernama Markus Mona. Tentara-tentara itu mereka menyuru teman-teman lain pergi karena mereka perlu dengan saya (istri Almarum). Saya (istri Almarum) menanyakan pada mereka, bapa-bapa ada perlu apa sama saya ?

TNI                    :  Apakah ibu punya suami sama pak Niko ya ?
Ibu Ance           :  Ya, betul.
TNI                : Ibu Ance, sebetulnya Pak. Matias (Kakak ibu Ance) tidak setujuh ibu bersuami     dengan pak. Niko, pak. Niko itu jelek.

Ibu Ance        : Pak. Matias (Kakak ibu Ance) suda setujuh dan kami suda tinggal sama-sama, semua itu Tuhan yang tetntukan siapa jodoh kita

TNI   : Ibu, Apakah pak Niko ada simpan senjata ? Ibu jujur saja, kami suda bicara dengan  kami punya komendan (PANGDAM). Kalau ibu kasi tahu kami tentang keberadaan senjata, ibu ikut kami ke pos kami akan memberikan uang 50 Juta. Uang itu ibu bisa menggunakan untuk buka usaha atau buka kios di kampung Kweel ini.

Pak Niko itu OPM, tahun 2000/2001 Pak Niko itukan komandan satgas kenapa mau dengan dia. Dia pengacau, dia pengasut di kota Merauke. dia OPM yang mempunyai senjata, kenapa ibu suka dengan dia ?
Saya (istri Almarum) tidak menanggapi pembicaraan mereka dan saya pamit dari mereka untuk pergi ke kios membeli minyak tanah dan pulang.

Hal yang serupa juga terjadi, suatu saat sekitar jam 09.00 WPB, pak Niko telah keluar bersama masyarakat pergi berburu. Selang beberapa menit datang aparat pam perbatasan ke rumah kami dan mereka menanyakan pak Niko tapi Saya (istri Almarum) sampaikan bahwa suda keluar. Seperti biasanya mereka tanya tentang senjata yang menurut mereka pak Niko ada simpan.

Sebagai manusia biasa Saya (istri Almarum) merasa bosan, tertekan, resah dan  takut maka Saya (istri Almarum) menyuru mereka silakan periksa sendiri di dalam rumah dan mereka masuk periksa, tindakan ini seperti mengeledah rumah sehingga mengakibatkan anak-anak Saya (istri Almarum) takut. 

Saya (istri Almarum) sedikit marah dan masuk ambil senapan angin dan menunjukan kepada mereka, kami hanya punya senapan angin yang ini saja sedangka senjata api yang bapa-bapa maksud itu tidak ada. Melihat senapan angin itu, mereka langsung ambil senapan angin itu dan bawa pergi tanpa mengembalikannya.

Terror dan intimidasi TNI terhadap Almarum Nicolaus Yeem dan keluarganya tentang kibarkan bendera bintang kejora dan senjata api di kampung Kweel itu masi terjadi dan berlangsung sampai dengan sekarang berita dinaikan.

Hal ini terjadi pada Tuan. Matias Dambujai dan Ny. Godelifa Dambujai yang adalah kakak dari istri Almarum. TNI masi datang pada mereka dan tanyakan tentang senjata yang dimiliki oleh (Almarum Nicolaus Yeem). Sesungguhnya bahwa senjata itu tidak ada, sehingga dengan tindakan TNI seperti itu membuat keluarga Saya (istri Almarum) merasa tertekan dan takut.

Sumber: knpbnews.com
Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA