SIAPA YANG MONYET, SAYA ATAU KAMU? - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » » SIAPA YANG MONYET, SAYA ATAU KAMU?

SIAPA YANG MONYET, SAYA ATAU KAMU?

Written By Suara Wiyaimana Papua on Kamis, 03 April 2014 | Kamis, April 03, 2014


Ilustrasi

Jayapura, 3/4 (Jubi) – Thedorus Bitbit dan Noah Maryen ketika memperkuat Pelita Jaya dalam Galatama di Indonesia sekitar 1990 an dilempari kulit pisang saat bermain di dalam lapangan sepak bola. Jacksen F Tiago, Pelatih Persipura meloncat kegirangan saat Nelson Allom mencetak gol kedua ke gawang Rifki Mokodompit  dari Sriwijaya FC karena menahan emosinya yang disebabkan oleh teriakan rasialis suporter Arema yang menyamakan, manusia dengan monyet, dalam sebuah pertandingan Indonesia Super League musim 2013. Pada musim sebelumnya, Ortizan Solossa sampai naik pitam dan menyerang para supporter Arema Indonesia di pinggir lapangan karena teriakan rasis yang sama.

Itu di lapangan sepakbola yang sangat menjunjung sportifitas dan anti rasisme dan terjadi di luar Tanah Papua. Seandainya di Tanah Papua, suporter paling extreme sekalipun, seperti suporter klub sepakbola di Eropa Timur akan berpikir beribu-ribu kali untuk mengucapkan kata-kata rasis kepada para pemain di lapangan. Namun karena mereka adalah manusia yang punya kecenderungan tidak pernah puas, mungkin mereka akan menulis di tembok-tembok kota atau ruang publik lainnya. Di zaman teknologi informasi seperti sekarang ini, sifat seperti itu menjelma lewat jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Bahkan, tidak jarang orang yang dianggap intelek pun bisa berubah menjadi tidak beradab di jejaring sosial, karena misalnya, mengumpamakan Kota Jayapura ini sebagai tempat untuk memelihara monyet, namun banyak pohon di tebang? Padahal, menurutnya monyet seharusnya bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain. Sementara kita semua tau, Monyet atau Kera, anggota superfamilia Hominoidea dari ordo Primata ini bukanlah satwa endemik di Tanah Papua.
Atau, yang terkini, oknum anggota polisi yang mengucapkan kata “Monyet” pada massa aksi demo damai Solidaritas Mahasiswa Peduli Tapol/Napol (SMPTN)  saat akan melakukan unjuk rasa di sekitar Gapura Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen), Waena, Kota Jayapura, Papua, Rabu (2/4) siang kemarin, seperti diberitakan oleh media ini. Entah apa yang ada dalam kepala oknum anggota polisi tersebut hingga mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kita patut curiga, jangan-jangan oknum polisi tersebut tidak punya kepala, seterusnya tidak punya otak dan akhirnya tak punya akal. Wajar saja kita berpikir demikian, karena oknum polisi saat mengamankan unjuk rasa di Papua lebih suka menggunakan peralatan lengkap, termasuk menutup kepala mereka dengan helm. Siapa yang tau kepala mereka ada atau tidak? Yang terlihat hanya helm yang dipasang diatas leher mereka.
Singkatnya, semua kata “monyet” yang diucapkan oleh manusia lain kepada sesama manusia adalah sebuah sarkasme untuk mengidentikan seseorang dengan hewan primata ini secara fisik. Karena hampir di setiap kasus sarkasme “monyet” (dengan maksud rasis) ditujukan kepada manusia ras Negroid.
Seperti juga manusia, monyet bukan hanya punya fisik saja. Monyet juga punya sifat dan perilaku. Wikimedia mendeskripsikan “Monyet” sebagai istilah untuk semua anggota primata yang bukan prosimia (“pra-kera”, seperti lemur dan tarsius) atau kera, baik yang tinggal di Dunia Lama maupun Dunia Baru. Hingga saat ini dikenal 264 jenis monyet yang hidup di dunia. Tidak seperti kera, monyet biasanya berekor dan berukuran lebih kecil. Monyet diketahui dapat belajar dan menggunakan alat untuk membantunya dalam mendapatkan makanan.
Pengelompokan monyet bersifat parafiletik, karena monyet Dunia Lama (Cercopithecoidea) sebenarnya lebih dekat kekerabatan genetiknya dengan kera (Hominidae), daripada monyet Dunia Baru (Platyrrhini). Monyet terbesar adalah mandrill. Beberapa monyet dalam bahasa sehari-hari juga sering disebut sebagai kera.
Banyaknya jenis monyet di dunia ini membuat para peneliti satwa (mungkin) kesulitan untuk mendeskripsikan sifat dan perilaku monyet secara umum. Lebih mudah mengulik sifat dan perilaku monyet dari Zodiak Cina atau bacaan populer tentang monyet, sifat dan perilakunya.
Zodiak Cina, mendeskripsikan monyet sebagai binatang yang mewarisi kecerdasan dan kesanggupan manusia untuk menipu! Monyet dijadikan lambang penemu. Hewan primata ini dianggap penuh inovasi, pandai berimprovisasi dan sanggup menarik perhatian orang terhadapnya karena akalnya yang seribu satu macam dan daya pikatnya yang tak dapat ditiru. Monyet diyakini mampu memecahkan masalah yang ruwet-ruwet dengan gampang dan dapat belajar dengan cepat. Sejak berusia dini, ia sudah memupuk keahlian bermasyarakat. Ia mengerti bagaimana cara bergaul yang baik dan bagaimana cara membujuk orang lain untuk memperoleh apa yang diperlukannya secara tepat. Inilah sisi positif monyet.
Segi negatifnya? Di antara binatang shio lainnya dalam zodiak Cina, monyet adalah hewan “superiority complex”, alias terlalu mengagungkan diri sendiri. Monyet bisa menjadi mahluk yang egois, angkuh, dan sombong. Monyet juga punya rasa iri yang tinggi. Hewan ini mempunyai rasa bersaing yang hebat, namun amat mahir dalam menyembunyikannya dan dalam merencanakan tindakannya yang licik. Shio Monyet dalam zodiak Cina digambarkan sebagai sifat tak tertandingi dalam usahanya mengejar uang, sukses, atau kekuasaan. Karenanya, orang yang bershio monyet diyakini sebagai manusia yang memiliki karakter yang teramat supel, yang memiliki bakat istimewa buat menjadikan anda kita padanya, padahal sesaat sebelumnya ia pernah mengakali kita.
Daya cipta seekor Monyet dalam zodiak Cina ini tidak hanya mengarah pada ketrampilan atau keahlian pikiran, tetapi juga mengarah pada kecenderungan untuk membelokan kebenaran demi keuntungan mereka pada situasi tertentu. Dalam bermacam hal, mereka membuat angan-angan dan kenyataan menjadi kabur, fakta dicampur  dengan fiksi, dan kebenaran dan kebohongan beriringan. Andaikata standar moral “Monyet” yang tidak terlalu tinggi membuatnya menjerumuskan diri dalam suatu kesulitan, maka kecerdasan, kelincahan, dan kelicikannya akan membuatnya mudah memutar-balikkan kenyataan untuk menyelamatkan mukanya dan mencari dalih untuk  kepentingan diri sendiri.
Dalam kepribadian seseorang bershio Monyet, satu-satunya yang tak pernah ketinggalan dalam dirinya adalah rasa percaya diri. Tak peduli betapa pemalu atau jinaknya pun tampangnya, ia akan berusaha sebaik-baiknya untuk memperlihatkan tingkah laku yang baik, kesopanan yang terlatih, dan ketenangan yang meyakinkan. Ia percaya sepenuhnya pada kemampuannya untuk menghadapi tantangan apa saja.
Namun di alam nyata, monyet dikenal pandai mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa susah-payah. Karenanya seekor monyet cenderung untuk cepat bosan dan kurang menghargai apa yang sudah dimilikinya. Tentu saja, sikap ini juga dapat mengganggu asmaranya. Untuk menjaga hubungan asmaranya ini Monyet, monyet membutuhkan sedikit intrik dan banyak variasi. Terutama di waktu muda, Monyet yang selalu ingin mencoba pengalaman baru mungkin kurang sanggup mempertahankan sebuah hubungan serius jangka panjang. Bahkan ada beberapa antaranya yang suka mengganggu hubungan orang lain dan menikmati kekacauan akibat ulah mereka.
Itulah monyet dalam Zodiak Cina.
Cerita tentang sifat monyet lainnya pernah dibahas juga dalam sebuah majalah Islam, Sabili. Majalah ini mengulik sifat-sifat seekor monyet yang dianggap sama dengan sebagian manusia.  Manusia yang melupakan pendukungnya setelah mendapatkan kekuasaan sangat mirip dengan sifat seekor monyet berwatak sesukanya dan berlagak “malas tau”.
Monyet adalah hewan yang tidak bisa diam karena tangan dan kakinya selalu bergerak walau sekedar menggaruk-garuk kepala. Perilaku monyet ini sama dengan manusia yang suka memprovokasi. Tak lebih dari biang kerok yang pandai memancing keributan dan menambah permasalahan baru, untuk meraih kepentingan pribadi  atau kelompoknya. Monyet juga pandai berakting atau merekayasa sesuatu untuk menutupi tindakannya yang merugikan orang lain.
Rakus adalah sifat monyet lainnya yang ada pada manusia-manusia yang memanfaatkan status dan posisinya untuk meraih keuntungan sebesar mungkin. Seekor monyet, ketika ada kesempatan mengambil makanan, segera ia penuhi tangan kanan dan kirinya, bahkan kedua kakinya. Sama dengan manusia yang tidak ada rasa malu dan risih untuk meraup segala sesuatu selama status dan posisinya memungkinkan untuk itu. Bahkan jika harus mengorbankan orang lain, akan dia lakukan dengan kekuasaan yang dimiliki karena status dan posisinya itu.
Begitulah sifat dan perilaku monyet. Sifat dan perilaku monyet memang cenderung berelasi dengan “kekuasaan” dan “superiority complex”. Bukan dengan “Survivors” atau “Victim”, terkecuali topeng monyet!
Jadi, siapa yang Monyet? Saya atau Kamu? (Jubi/Victor Mambor)


Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA