“Pelanggaran HAM di Tanah Papua" - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » » “Pelanggaran HAM di Tanah Papua"

“Pelanggaran HAM di Tanah Papua"

Written By Suara Wiyaimana Papua on Jumat, 11 April 2014 | Jumat, April 11, 2014

Ilustrasi Pelanggaran HAM di Papua

Suara Wiyaimana, dibumi Cendrawasih-Papua. Penderitaan panjangan rakyat Papua terlebih khusus Rakyat Bangsa Papua Barat yang bermulah sejak 1961 secara operasi militer Resmi bahkan secara sistematis dalam bentuk pembunuhan kilat penghilangan nyawa paksa, pemerkosaan terhadap perempuan Papua dan kekerasan-kekerasan, penganiayaan, penahanan sewenang-wenang bagi pembela hak-hak dasar Rakyat di luar proses hukum. Bentuk-bentuk tindakan pelanggaran HAM tersebut termasuk kategori pelanggaran HAM Berat sebagaimana diatur di dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Soal pelanggaran HAM di Papua, di bagi dalam tiga periode
1.   Pelanggaran HAM pertama, Periode 1961-1969 (tujuh operasi militer).
2.   Periode 1969-1998 (ada 10 operasi militer), 
3.   Periode 1998-2014 (Tak ada operasi militer resmi, tapi ada pendekatan dengan kekerasan, dan jumlah korban kurang lebih sama dengan saat dilakukan operasi militer, seperti: Biak Berdarah, Wasior Berdarah,Uncen Berdarah, Wamena Berdarah, Penculikan Theys, dan
pembubaran KRP III).

Setelah jatuhnya rezim soeharto di era revormasinya indonesia tidak ada nilainya bagi Bangsa Papua Barat pelanggaran Hak asasi manusia (HAM) terus saja terjadi, hak hidup diatas tanahnya sendiri di batasi, Hak hidup bebas dibatasi sehingga mematikan semua akses hidup dan akses jurnalis nasional maupun internasional sehingga terjadi genosida.

Upaya-upaya indonesia untuk menghabiskan Rakyat Bangsa Papua kini bukan lagi dengan operasi militer tetapi secara sistematis dan terencana mencari celah untuk menciptakan konflik ujung-ujungnya bermuarah pada konflik horisontal yaitu konflik antara orang papua dengan orang papua sendiri Selain konflik horisontal ada juga dengan cara yang dilakukan oleh oknum BIN mencari kesempatan yang tepat untuk menciptakan sebuah konflik agar situasi politik yang mengarah pada konflik horizontal.

Dalam hal ini Orang Asli Papua (OAP) sengaja di bunuh secara perlahan-lahan melalui berbagai macam upaya atau kegiatan misalnya: pemekaran, pemilu, pilkada, pembangunan, penerimaan pegawai (CPNS) dan bermacam-macam isu lainya.
Jelang pesta dekokrasi tahun 2014 Rakyat Bangsa Papua mandi Darah, sejak awal bulan januari 2014 Papua di timika terjadi konflik horisontal yang di ciptakan oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan di atas Tanah Papua secara sistematis,terstruktur dan terencana. Oknum-oknum tersebut adalah TNI/POLRI sendiri, kini menjalan tiga bulan pemerintah dan PT. FreePort tidak mampuh menyelesaikan akar masalah ini. Kenyataanya pihak keamanan tidak mengamankan konflik tersebut malah lipat tangan dan jadi penontong atas konflik tersebut.

Anehnya tidak tahu mengapa TNI dan Polri di biarkan Konflik antara suku Moni dan Dani yang saling membunuh di Timika, tetapi demonstrasi damai rakyat Papua justru diblokade, dibubarkan, ditangkap dan ditembak oleh TNI dan Polri dengan kekuatan peralatan lengkap? berarti dapat disimpulkanbahwa Indonesia dan PT.FreePort mendesain konflik sosial,ekonomi dan politik di Papua untuk suatu tujuan yangterselubung yakni orang Papua musnah dan Papua seutuhnya milik Indonesia.

"Jangan diam jika itu benar"
"Bersuaralah karena kebenaran"
"Salam revolusi"

Oleh: cookie mio

Sumber: https//facebook.com
Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA