SAYA TERBUAI DALAM BUDAYA MODERN dan HARAPAN BANGKIT DALAM BUDAYA MEE - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » » SAYA TERBUAI DALAM BUDAYA MODERN dan HARAPAN BANGKIT DALAM BUDAYA MEE

SAYA TERBUAI DALAM BUDAYA MODERN dan HARAPAN BANGKIT DALAM BUDAYA MEE

Written By Suara Wiyaimana Papua on Sabtu, 29 Maret 2014 | Sabtu, Maret 29, 2014

Oleh, Lasarus Goo
YOGYA. TIMIPOTU NEWS. Setiap insan manusia, tentunya berasal dan hidupnya tidak terlepas dari budayanya. Manusia dilahirkan dalam budaya, dibesarkan dalam budaya, dan dibentuk karakter sebagai seorang manusia utuhnya. Itulah yang disebut sebagai manusia yang pada dasarnya memiliki budaya.

Kalau kita berbicara tentang budaya maka bukan mencari bentuk atau lambang dari budaya. Namun, yang dihargai dan dilestarikan adalah nilai dari budaya tersebut. Bagaimana kita mau memahami nilai budaya serta bagaimana kita mepraktekkan nilai-nilai itu dalam kehidupan manusia.

Dalam kamus besar Indonesia, budaya dapat diartikan sebagai cara hidup yang dipercayai baik. Suatu kebiasaan masyarakat yang dinilai baik. Dari penjelasan ini, dapat kita kaitkan dengan kehidupan manusia bahwa, memang di setiap suku bangsa tidak ada budaya yang mengajarkan tentang nilai-nilai yang merusak. Artinya, dalam setiap suku bangsa yang ada, budaya selalu mengajarkan nilai-nilai yang baik. 

Pada umumnya, manusia kapan dan dimana saja berada selalu berbicara panjang lebar tentang budaya. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena memang manusia itu berasal dari budaya dan akan berangkat dari budaya yang dianutnya. Namun yang menjadi sebuah pertanyaan pada dunia modern seperti saat-saat ini adalah, sejauh mana kita paham tentang budaya?, sejauh mana kita menghargai nilai-nilai budaya?, sejauh mana kita melestarikan budaya? Dan sejauh mana kita hidup berdasarkan nilai-nilai budaya yang ada.

Itulah beberapa pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita kembali melihat pada budaya masing-masing suku bangsa. Dan pertanyaan-pertanyaan diatas ini, benar-benar kita disadarkan untuk kembali memaknai hidup berdasarkan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur suku bangsa.

Sangatlah jelas bahwa, berbicara tentang budaya bukan bentuknya tetapi nilai. Demikian juga dengan lahirnya budaya dalam suku bangsa. Lahirnya budaya karena sekelompok masyarakat menilai bahwa kebiasaan hidup dalam sehari-hari itu dinilai baik. Lalu, pertanyaannya, berapa porsen, generasi muda mempertahankan nilai kebaikan dalam budaya yang telah ditetapkan oleh leluhur kita?.

Kita pun yakini bahwa budaya adalah pondasi hidup manusia, budaya adalah dasar terbentuknya pikiran manusia, dan sering dikatakan bahwa, dalam budaya masih tersimpan filosofi hidup manusia. Ungkapan seperti itu tidak bisa kita salahkan, karena memang budaya mengajarkan yang baik tentang kehidupan manusia. Namun yang menjadi renungan panjang bagi penulis, setelah hadirnya agama universal dan pemerintahan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, kelihatannya nilai budaya mulai runtuh. Banyak orang mulai berkipra hidupnya dalam agama dan pemerintah.

Memang kita akui bahwa, hadirnya agama universal dan pemerintahan di tengah-tengah masyarakat adalah untuk memperbaiki tatanan hidup manusia. Hal itu musti kita akui. Namun, dengan melihat kenyataan pada saat, banyak orang berbudaya itu mulai tinggal budaya leluhurnya dan mengakui ajaran agama dan pemerintah adalah ajaran yang baik dari pada ajaran budaya. Itulah yang penulis maksudkan bahwa, nilai-nilai budaya semakin hari semakin hilang.

Penulis tidak bermaksud untuk membujuk kepada sesama dan penulis juga tidak mengklaim bahwa ajaran budaya itu yang lebih tinggi dari pada ajaran agama dan pemerintah. Sama sekali tidak bermaksud sampai kesitu, tetapi penulis mengajak bahwa, sekalipun dunia mulai berubah, sekalipun ajaran agama universal dan pemerintah terus menyadarkan kita, sebagai manusia yang berbudaya harus tetap berpengang teguh pada nilai atau ajaran budaya. Artinya, kita sebagai manusia, kita musti berpengang ketiga ajaran tersebut. Pertama, ajaran Budaya. Kedua, ajaran agama universal. Ketiga, ajaran pemerintah.

Bagaimana Dengan Budaya Orang Mee?

Dari penjelasan umum yang sudah diulaskan diatas ini, penulis sebagai seorang mahasiswa yang berasal dari budaya “suku MEE” maka, kembali melihat bagaimana dengan budaya saya dalam kehidupan pada dunia modern ini.

Pada dasarnya sejak dahulu kala, orang MEE mempunyai budaya dan hukum adat yang menngatur kehidupannya. Hal itu bukan hanya berlaku saat itu saja, tetapi sampai saat ini dan akan dijalankan oleh  orang MEE. artinya, budaya dan istiadat orang Mee bukan hanya berlaku di satu generasi saja, tetapi dari generasi ke generasi akan hidup bersama manusia Mee. kenapa demikian? ORANG MEE meyakini bahwa budaya adalah mama, budaya adalah dasar hidup, dan budaya adalah penentu hidup masa depan. Itulah sebabnya, budaya orang Mee akan hidup sampai kapan dan dimana pun.

Setelah orang MEE berkontaksi dengan orang asing yang berbedah budayanya, dan setelah orang Mee disentuh oleh agama universal dan pemerintah, apa yang terjadi, apakah ada perubahan kehidupan sosial atau tidak? Apakah budaya orang MEE masih eksis atau tidak?. Inilah pertanyaan saya untuk melihat kembali eksisnya budaya orang MEE di Papua. Tentu saja, dengan adanya perkembangan jaman itu, adanya perubahan-perubahan dalam bidang-bidang tertentu seperti, pendidikan, ekonomi, pelayanan kesehatan, dan paradigma hidup. Hal itu wajar saja terjadi karena pada dasarnya kehidupan manusia itu dinamis. Walaupun demikian, saya sebagai generasi muda kembali merenung bahwa, apakah nilai-nilai budaya orang Mee yang sudah diwariskan oleh leluhur itu masih dilestarikan atau masih junjung tinggi oleh manusia Mee saat ini?. Tentu tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan diatas ini.

Kelihatannya, perkembangan jaman ini membuat orang MEE juga harus berubah. Fakta telah membenarkan paradigma saya bahwa, banyak orang terdidik maka, banyak orang lupa budaya. Hal itu pasti akan terjadi dalam setiap suku di dunia. Demikian juga dengan orang MEE di Papua. Banyak orang mendapatkan gelar di berbagai jurusan, budaya orang Mee mulai hilang. Hal ini terjadi karena banyak orang terjung dalam dunia birokrat, politik, dan pemerintahan maupun lembaga-lembaga lain yang aturannya sudah diatur oleh Negara. Artinya bahwa, orang MEE semakin kurang untuk mengaja, melestarikan, mempertahankan dan menghidupkan nilai-nilai budaya.

Sebetulnya menurut pemahaman saya, budaya sudah mengatur bagaimana orang Mee berpikir yang benar, bagaimana orang Mee berbicara  yang baik, dan bagaimana orang Mee bertindak atau berbuat yang baik. Contohnya, apa yang dimuat dalam ajaran agama tentang larangan-larangan “10 perintah Allah“ itu, sudah ada juga dalam budaya Mee. lalu, kenapa nilai budaya semakin hilang.? Mungkin alasannya karena perkembangan jaman atau karena takut disebut primitif.

Itulah wajah-wajah runtuhnya nilai, ajaran, norman, orang Mee diantara perkembangan jaman yang sedang menglobal ini. Pertanyaannya, apakah kita hanya tertidur sono dan bermimpi indah dalam perkembangan jaman tersebut tanpa budaya orang Mee? atau pertanyaan lain, apakah cukup hanya pengetahuan dari ajaran agama dan pemerintah tanpa ajaran budaya yang sudah ada sejak dahulu kala itu?. Marilah kita sadar akan penting budaya dalam dunia modern ini.

Penulis sebagai mahasiswa yang disebut juga tulang punggung masyarakat dan bangsa maka, kembali mengajak  kepada kita sekalian bahwa, apapun yang kita sudah lihat adalah kenyataan dan perubahan akan tetap terjadi. Oleh sebabnya, kita sebagai generasi penerus  marilah kita menjaga dan hidupkan nilai-nilai budaya suku Mee di tengah-tengah dunia modern ini sebagai pijakan hidup orang Mee itu sendiri.

Dengan adanya filosofi hidup; Douu (Melihat), Gai (berpikir), ekowai (melakukan) itu, marilah kita merangkai hidup berdasarkan nilai budayanya. Marilah kita menari-nari dengan ajaran budayanya di tengah carut-marutnya dunia, dan marilah kita memaknai hidup berdasarkan budayanya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi akan eksis budaya orang Mee. kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengangkat nilai-nilai budaya orang Mee. jadikanlah budaya sebagai cerminan hidup. (Lasarus Goo/02)

Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, jurusan Teknik Sipil. Tulisan ini adalah awal dari latihan menulis.

Grup, Penulis Pemula Asrama Deiyai Yogyakarta.


Reporter Of Timipotu News
Int. Bidaipouga Mote


Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA