Kebebasan rakyat yang tertindas adalah hak mutlak yang harus diperjuangkan dan ditegakkan di atas segala bentuk tirani atau ketidakadilan.
Kemerdekaan dan kebebasan tidak datang sebagai pemberian sukarela dari penguasa atau penjajah. Kemerdekaan dan kebebasan adalah hak mutlak yang melekat pada setiap individu.
Setiap manusia berhak hidup bebas dari rasa takut, penindasan, dan pembatasan hak. Hak hak dasar itu adalah pemberian Tuhan, bukan pemberian manusia apa pun di dunia ini.
Martin Luther King Jr mengatakan: "kebebasan tidak pernah diberikan secara sukarela oleh penindas, melainkan harus dituntut oleh yang tertindas", karena itu hak mutlak.
Paulo Freire mengatakan: "Kaum tertindas harus menyadari kondisi mereka dan bangkit merebut kebebasan untuk memanusiakan kembali diri mereka".
Dalam konteks Papua, sudah banyak organisasi perjuangan dibentuk untuk memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan bagi bangsa Papua.
Ketidak bersatuan para pemimpin bangsa Papua memperpanjang penindasan ini. Ketidak-bersatuan dalam program atau agenda bersama membuat bangsa Papua menempuh perjalanan jauh dan lama.
Para pemimpin bangsa Papua mempelajari banyak teori, namun teori-teori itu tidak mengantar kita pada satu pahaman untuk pentingnya membangun persatuan di atas dasar 'satu rakyat satu jiwa' (one people one soul).
Para pemimpin bangsa Papua sedang membawa amanah dari siapa? Apakah amanah kelompok, ataukah amanat bangsa Papua? Di balik pemberian amanah, ada tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan; Di balik pemberian tanggung jawab, ada kerinduan bangsa Papua yang harus diwujudkan. Di balik pemberian amanah, ada darah dan air mata dari bangsa Papua yang harus dihentikan.
Walaupun bangsa Papua sedang mati di depan mata kita, tetapi para pemimpin bangsa Papua membiarkan bangsa ini mati. Walaupun bangsa ini ada warga yang diusir dari Kampung halamannya, tetapi para pemimpin sibuk menyerang satu sama lain.
Sebenarnya, apa yang diperjuangkan oleh para pemimpin bangsa Papua: "kemerdekaan bangsa Papua atau kematian bangsa Papua?", "kesatuan bangsa Papua, atau kehancuran bangsa Papua?" Ataukah kekuasaan dan kekayaan semata di atas penderitaan bangsa Papua?
Bangsa Papua sudah gagal membangun nasionalisme yang kokoh; dan berhasil terpecah pecah dalam nasiolisme kesukuan yang sempit. Karena kita membangun nasiolisme sempit, maka kita gagal membangun Persatuan Nasional yang utuh, solid dan tak terpecah belah.
Hari ini, bangsa Papua butuh kepemimpinan revolusioner yang rendah hati. Bangsa Papua butuh kepemimpinan karismatik yang membawa perubahan besar dan positif. Bangsa Papua membutuhkan kepemimpinan yang mempersatukan, mengayomi, menggerakkan, menghidupkan, dan membebaskan.
Hari ini, bangsa Papua bukan kekurangan pemimpin, tetapi terlalu banyak pemimpin yang saling berebutan untuk membawa bahtera Papua, yang mengakibatkan bahtera Papua terkatung katung di Samudera Pasifik tanpa arah yang hendak dicapai.
Para pemimpin bangsa Papua perlu menumbuhkan sikap kerendahan hati, saling mengakui, menghargai, dan bekerja sama untuk mewujudkan suatu tujuan yang luhur yaitu kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua.
Sudah lama rakyat bangsa Papua melahirkan para pemimpin, dan tokoh Papua melahirkan para tokoh. Hanya dibutuhkan kesadaran yang tulus dari para pemimpin bangsa Papua, dan berbicara dari hati ke hati di para para Adat. Kita adalah pelayan rakyat yang sedang tertindas, dengarkan jeritan rakyat bangsa Papua yang tertindas dan mencari jalan ke luar untuk memutuskan mata rantai penindasan ini.
"Mari kita bicara dari hati ke hati menuju Rekonsiliasi dan Penyatuan Bangsa Papua yang diselenggarakan di Vanuatu pada bulan November 2026".
Keterpecahan bangsa Papua adalah kemenangan Indonesia. Dan sebaliknya, kesatuan dan kebersamaan bangsa Papua adalah kemenangan awal menuju kemerdekaan dan kebebasan.
(Oleh: Selpius Bobii, Koordinator Tim Kerja/ Komite Rekonsiliasi Nasional Papua Barat).







0 komentar:
Posting Komentar