![]() |
| Korban Warga Sipil di Koroway Noven Digoel |
Siaran Pers Ke IV Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Kamis, 30 Juli 2026
Silahkan Ikuti Laporan Dibawa Ini.!
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka dari medan perang di Yahukimo bahwa operasi militer Indonesia dan baku tembak antara pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo dengan aparat militer Indonesia sejak 19-30 Juli 2026 mengakibatkan empat orang aparat militer Indonesia korban, satu anggota TPNPB atas nama Estibaga Heluka gugur, tiga warga sipil tewas dan ratusan warga sipil di Boven Digoel mengungsi ke hutan-hutan dan terbagi ke Kabupaten Yahukimo, Pegunungan Bintang, Asmat dan sekitaran Boven Digoel dan masih berada di hutan-hutan sambil mendirikan kamp-kamp pengungsian darurat oleh para pengungsi untuk bertahan hidup demi menghindari konflik yang sedang terjadi di Korowai dan sekitarnya.
Mayor Kopitua Heluka juga melaporkan bahwa setelah empat orang aparat militer Indonesia ditembak oleh pasukan TPNPB maka terjadinya serangan pendoropan pasukan militer Indonesia menggunakan tiga unit helikopter militer lalu melakukan serangan penembakan dan serangan bom dari udara hingga menyasar di pemukiman warga sipil sehingga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan pengungsian secara besar-besaran oleh warga sipil yang sedang mencari emas di Korowai. Para pengungsi ialah orang-orang dari seluruh wilayah Papua yang sedang mencari nafkah disana.
Dalam hal tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menegaskan kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Agus Subyanto agar hentikan operasi darat dan udara serta penembakan brutal melalui udara dan serangan di pemukiman warga sipil segera dihentikan karena serangan tersebut hanya mengorbankan warga sipil dan pengungsian secara besar-besaran. Kami juga melaporkan kepada semua pihak bahwa lebih dari 125.931 warga sipil di berbagai daerah telah mengungsi secara internal dalam laporan yang dikeluarkan oleh Human Rights Monitor lembaga kemanusiaan internasional yang berbasis di Jerman bisa ikuti:(https://humanrightsmonitor.org/reports/idp-update-june26-government-neglect-drives-west-papuas-spiraling-displacement-emergency)
Atas terjadinya konflik bersenjata dan pengungsian yang terjadi di berbagai daerah di Tanah Papua maka, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mendesak kepada PBB agar segera memberikan mandat kepada Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB untuk membentuk tim untuk melakukan penyelidikan konflik bersenjata di Tanah Papua serta memberikan bantuan kemanusiaan terhadap 125.931 lebih warga sipil yang mengungsi diberbagai daerah di Tanah Papua yang hingga sekarang masih membutuhkan ruang aman serta bantuan medis, makanan dan lainnya terutama bagi ibu-ibu hamil, balita, anak-anak hingga perempuan dan lansia serta kelompok rentan yang sangat membutuhkan perhatian serius oleh lembaga-lembaga kemanusiaan baik secara nasional dan internasional.
Oleh sebab itu, disampaikan terlebih khususnya kepada Palang Merah Internasional untuk dapat menangani krisis kemanusiaan di Tanah Papua akibat konflik bersenjata hingga mengakibatkan terjadinya pengungsian secara besar-besaran terhadap warga sipil namun tak ada perhatian serius oleh pemerintah Indonesia terhadap para pengungsi internal di Tanah Papua. Atas dasar itu, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mendesak kepada Palang Merah Internasional untuk turun langsung di lapangan dalam menangani para pengungsi di Papua.
Demikian Siaran Pers Ke IV Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Kamis, 30 Juli 2026 oleh Sebby Sambom Jubir TPNPB OPM.
Dan terima kasih atas kerja sama yang baik.
Penanggungjawab Nasional Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM.
Jenderal Goliath Tabuni
Panglima Tinggi TPNPB-OPM
Letnan Jenderal Melkisedek Awom
Wakil Panglima TPNPB-OPM
Mayor Jenderal Terianus Satto
Kepala Staf Umum TPNPB-OPM
Mayor Jenderal Lekagak Telenggen
Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM.
![]() |




0 komentar:
Posting Komentar