Dogiyai, Suara Wiyaimana Papua-kedamaian umat Tuhan menjelang perayaan Paskah berubah tiba-tiba dengan “hujan peluru”. Banyak kisah pilu belum terungkap dari tragedi berdarah yang terjadi di Moanemani, kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, dari 31 Maret 2026 hingga 2 April 2026.
Termasuk masih misteriusnya kasus pembacokan terhadap polisi Jufentus Edoway. Salah satu anggota Polres Dogiyai itu ditemukan bersimbah darah di parit depan Gereja Ebenhaezer, Kimupugi, Moanemani, distrik Kamuu, sebelum situasi berubah mencekam dengan penyisiran hingga penembakan brutal.
Solidaritas Rakyat Papua (SRP) kabupaten Dogiyai berusaha menghimpun kejadian tragis itu dalam catatan hasil investigasinya. Data berikut dikirim 3 April 2026.
Pemicu Awal
Selasa, 31 Maret 2026 menjadi hari prahara bagi rakyat dan alam Dogiyai. Hari ini juga terjadi sebuah insiden berdarah yang memilukan. Insiden Dogiyai Berdarah bermula dari ditemukannya mayat dari seorang personil polisi yang bertugas di wilayah Dogiyai. Jasad korban bernama Bripda Jufentus Edoway ditemukan tepat di dalam selokan yang terletak di depan Gereja Kingmi Ebenhaezer, Moanemani, pada hari Selasa, 31 Maret 2026 sekitar Pukul 10:00 WP (Waktu Papua).
Dampak “Operasi Balas Dendam”
Dampak dari ditemukannya jasad Bripda Jufentus Edoway memantik amarah aparat gabungan TNI-Polri. Akibatnya “operasi balas dendam” dilancarkan. Aparat gabungan melakukan operasi pengejaran, penyisiran, dan penembakan liar secara membabi-buta ke segala arah. Mereka menyisir jalur-jalur umum, pemukiman, dan perkampungan warga sipil. Sepanjang jalan kampung Ikebo dan kampung Ekemanida, distrik Kamuu, menjadi zona pengejaran dan penyisiran secara brutal.
Korban “Operasi Balas Dendam”
Akibat dari “operasi balas dendam” yang dilakukan aparat gabungan di wilayah pemukiman dan perkampungan warga sipil, menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa di kalangan masyarakat sipil.
Hanya jeda beberapa menit saja, Siprianus Tibakoto (19), seorang pemuda sipil dari kampung Puweta, distrik Kamuu Selatan, dinyatakan meninggal dunia setelah tertembak pada bagian dagu bawah dan menembus hidung. Ia ditembak di kampung Ikebo, distrik Kamuu, sekitar Pukul 11:20 WP.
Tak lama kemudian, sekitar Pukul 11:40 WP, di kampung yang sama (kampung Ikebo) dikabarkan seorang wanita paruh baya (lansia), bernama Yulita Pigai (70) ditembak dan tewas di tempat.
Mama Yulita Pigai ditembak saat aparat gabungan melakukan penyisiran. Ia tertembak tepat pada bagian paha.
Di tempat lain, tepatnya di kampung Ekemanida, distrik Kamuu, ditemukan juga seorang warga sipil yang tewas. Namanya Martinus Yobee (12), seorang pelajar Sekolah Dasar (SD). Tercatat sebagai anak di bawah umur. Martinus Yobee ditembak di bagian perut hingga ususnya terburai. Ia akhirnya tewas sekitar Pukul 15:43 WP setelah bersusah-payah diselamatkan secara manual oleh warga setempat.
Tidak berhenti sampai di situ. Situasi dan kondisi kota Dogiyai dalam sekejap berubah menjadi zona perang antara aparat gabungan versus masyarakat sipil. Konflik berlangsung sampai sore hingga malam hari.
Sekitar Pukul 02:00 WP, seorang warga sipil bernama Angkian Edowai (19) berasal dari kampung Denemani, distrik Dogiyai, dinyatakan tewas di kampung Kimupugi, distrik Kamuu, setelah tertembak di bagian dada dan jantung. Diduga selongsong peluru (proyektil) masih bersarang di dalam tubuhnya dan belum dikeluarkan.
Di malam hari ini pun, sekitar Pukul 21:55 WP, seorang murid, di bawah umur dari kampung Denemani, distrik Dogiyai, bernama Maikel Waine (11) dikabarkan menjadi korban penembakan aparat gabungan di Kimupugi, distrik Kamuu. Maikel Waine tertembak di bagian susu hingga peluru tembus di bahu kirinya. Hingga kini kondisinya masih kritis.
Seorang warga sipil lainnya yang berasal dari kampung Mauwa, distrik Kamuu, bernama Pigai Kikibi (19) dikabarkan menjadi korban lainnya. Pigai Kikibi tertembak di bagian tumit kaki dan paha. Ia ditembak dari kampung Ikebo, sekitar Pukul 01:00 WP.
Di tempat lainnya, tepat di kampung Ikebo, dikabarkan seorang warga sipil atas nama Ferdinand Auwe (19), pemuda asal kampung Puweta II, distrik Kamuu Selatan, menjadi korban penembakan aparat gabungan TNI-Polri. Feri Auwe tertembak di bagian paha dan menghembuskan nafas terakhir di tempat, sekitar Pukul 02:00 WP.
Korban terakhir di kalangan warga sipil yang berhasil didata adalah Magapai Yobee, seorang pemuda asal kampung Kimupugi. Ia tertembak di bagian pipi (wajah) sekitar Pukul 01:00 WP di kampung Kimupugi.
Selain korban di kalangan warga sipil, berdasarkan data yang ada, ada dua korban lainnya di kalangan aparat keamanan. Yakni Bripda Jufentus Edoway dan Bripda Abius Yawan.
Bripda Abius Yawan mengalami luka tembakan anak panah di bagian punggung belakang, sementara masih dirawat dan rencananya akan dioperasi. Sedangkan Bripda Jufentus Edoway yang juga adalah korban awal pemicu insiden dikabarkan dibunuh oleh orang tak dikenal (OTK).
Untuk data atau bukti pendukung, SRP turut lampirkan berupa tabel, gambar korban jiwa, korban harta benda (materi) dan peluru yang dipungut masyarakat saat insiden berdarah berlangsung.
SRP Rilis Data Insiden Dogiyai Berdarah (31 Maret-2 April 2026)
Photo korban Penembakan di Dogiyai, 31 Maret-02 April 2026.
Sumber : suarapapua.com










0 komentar:
Posting Komentar