KRONOLOGIS PEMBUNUHAN PENDETA NELES PEUKI - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :

.

.
Home » , , , » KRONOLOGIS PEMBUNUHAN PENDETA NELES PEUKI

KRONOLOGIS PEMBUNUHAN PENDETA NELES PEUKI

Written By Suara Wiyaimana Papua on Sabtu, 21 Februari 2026 | Sabtu, Februari 21, 2026


KRONOLOGIS PEMBUNUHAN PENDETA NELES PEUKI


Nama  : Pdt Neles Peuki

NIK : 9128050907890001

Tempat/Tgl Lahir : Pona, 10 Juni 1996

Jenis Kelamin  : Laki-laki

Alamat  : RT/RW 001/- Desa Mogodagi, Distrik Kapiraya Kabupaten Deiyai Propinsi Papua Tengah

Pekerjaan  : Gembala Sidang Gereja KINGMI Jemaat Mogodagi Kelasis Tigi Barat

Pada hari senin, 24 November 2025 pukul 08.00 WIT dari Kampung Mogodagi korban naik ke bandara udara Kapiraya untuk mengirim titipan barang berupa buah merah dan pisang untuk keluarganya yang tinggal di Wagheta dan sekitar pukul 10.00 WIT korban bersama warga Kampung Mogodagi Kapiraya yang berjumlah 13 orang yang rencana titip barang maupun mereka yang ikut naik pesawat ke Waghete Kabupaten Deiyai sama-sama tinggal di lapangan Bandara Udara Kapiraya menunggu pesawat mendarat di lapangan Kapiraya. 

Sekitar pukul 10.00 WIT karena kecapehan korban tidur di rumah Bandar udara sambil tunggu  pesawat yang rencana mendarat di lapangan Kapiraya. Sekitar pukul 10.30 korban bangun dan menyampaikan kepada warga yang tinggal di situ dan berpesan bawa “Saya cape jadi saya mau kembali ke rumah, tolong barang titipan saya ini kasih naik, dan keluarga dari Waghete juga akan titip barang jadi bawa turun ke rumah” setelah itu korban turun ke kampung mogodagi dan dia istrahat di rumah salah satu anggota jemaat dan putar estra joss dan mereka minum, sambil mereka minum ada sekelompok pelaku itu teriak-teriak sambil potong jaringan internet dan naik kearah jalan bandara udara sambil membawa daun kelapa muda dan ranting pohon cemara. 

Korban dengan beberapa orang juga ikut naik dari belakang menuju ke bandara udara. Warga masyakat yang sama-sama naik itu memberitahukan korban untuk membelakangi mereka tetapi korban tetap memilih depan menuju ke lapangan bandara udara sambil korban kasih tahu bawa “saya tadi dari Bandara turun ke kampung jadi saya naik ini kedua kali ke bandara udara.” Dalam pertengahan perjalanan korban mereka ketemu dengan seorang warga kampung Mogodagi dan mengajak untuk kembali ke kampung karena di lapangan bandara udara itu ada warga Mee di Mogodagi yang kenah panah, kampak, tombak dan parang dan lemparan batu oleh kelompok pelaku. Tetapi korban sebagai gembala di kampung Mogodagi dia tidak pedulikan ajakan itu dan niatnya sebagai gembala dia mau langsung melihat kondisi lapangan. Setelah itu sampai pertengahan perjalanan ketemu dengan sekelompok tua-tua dari pelaku itu menghadang untuk kembali ke kampung Mogodagi tetapi korban tetap memilih jalan terus dan ketemu sekelompok pelaku yang pegang parang, kampak, tombak dan batu lalu memukul korban sambil memotong bahu korban menggunakan parang, dalam kerumunan para pelaku itu ada dua masyarakat kamoro yang kenal dengan korban menarik keluar dari kerumunan pelaku dan disuruh cepat kembali ke kampung. 

Setelah itu korban bersama warga jemaatnya yang mengikutnya sambil kembali ke kampung Mogodagi sambil korban menjelaskan bawa “saya kenah potong dari para pelaku di tangan dekat bahu, dan mereka pukul saya di hidung dan kepala” dan korban menjelaskan kepada warga jemaatnya yang ikut dia bawa “para pelaku ini kejam jadi sebentar kita sampai di kampung itu kita memilih bersembunyi” setelah sampai ke kampung Mogodagi hanya yang ada itu seorang ibu yang duduk di Balai Desa Mogodagi dan ada beberapa tua-tua dari kelompok pelaku itu mengajak kelompoknya untuk tidak merusak balai desa dan rumah pastori gereja, gedung gereja dan perumahan warga masyarakat tetapi ada dua orang pelaku yang masuk potong papan nama kampung sambil menurunkan tiang bendera merah putih, selain itu ada dua pelaku lainnya mengajak kepada orang-orang yang menggunakan topi topen untuk membakar balai desa, rumah pastori gereja, dan rumah warga masyarakat kampung mogodagi dan diancam para ibu-ibu perkauan untuk perkosa dan melarang untuk menonton aksi kejahatan pembakaran yang mereka lakukan sehingga mereka berjalan menuju ke jalan. 

Saat itu korban Pdt Neles Peuki bersembunyi di belakang balai desa dekat bambu kuning sedang berdiri sambil nonton para pelaku sedang membakar rumah, dan seorang ibu yang ketemu itu memberitahukan bahwa “Disana tidak ada orang jadi jangan kembali” baru korban menjawab “saya juga sedang nonton mereka bakar rumah itu.” Ada seorang ibu yang mempunyai rumahnya yang berdekatan dari balai desa ke rumahnya berjarak 30 meter kembali melihat rumahnya dibakar dan melihat halamannya yang sudah buat got beden kebun itu ada yang buat berbentuk kuburan diatasnya itu tumpukkan api, sehingga dia pergi kasih tahu ibu-ibu dan bapak-bapak yang lain sudah kumpul setelah para pelaku kasih tinggal kampung. 

Seorang ibu perkauan dan seorang majelis Gereja mereka menggali kuburan itu, kasih bersih api yang mereka buat diatas kuburan, setelah itu gali kuburan, dilihatnya pelaku membakar rambut dan tubuhnya dengan api, dan leher terpotong sampai tulang leher putus hanya daging dan urat sedikit yang belum terpotong, lubang bolong besar di dada, dan luka terpotong tangan kanan adalah bekas potong dari sebelumnya di Bandara Kapiraya dan tangan kanannya terpotong dengan tulangnya hanya sedikit daging yang belum terputus. Setelah itu  kasih pakai baju dan bungkus dengan kain selimut. Besoknya hari selasa, 25 November 2025 pukul, 07.00 WIT mereka kubur. 

Sebelum Pdt Neles Peuki dibunuh lalu dibakar ada beberapa warga lainnya juga mengalami luka-luka dari Badar Udara Kapiraya. Berikut adalah daftar nama korban yang berhasil diidentifikasi:

1. Nelius Peuki (luka panah, kritis, dirawat di RS Madi)

2. Isak Anouw (luka parang, dirawat di RS Madi)

3. Menase Dimi (luka panah, belum mendapat penanganan medis, berada di Mogodagi)

4. Aten Anouw (luka kartapel di kepala, belum mendapat penanganan medis, berada di Mogodagi)

5. Yulianus Goo (luka kartapel di kepala, belum mendapat penanganan medis, berada di Mogodagi)

6. Yulian Goo (luka kartapel di kepala, belum mendapat penanganan medis, berada di Mogodagi)

7. Lamek Pugiye (Kenah Kertapel kenah bibir dan dirawat di Mogodagi). 

Selain itu juga 4 rumah  Pastori milik Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Amin Mogodagi di bakar dan 16 Rumah warga Jemaat juga ikut di bakar oleh para pelaku. 





Share this article :

0 komentar:

.

.

Pray For West Papua

Pray For West Papua

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA