Papua di Ambang Kehabisan : Seruan Profetis atas Genosida Sunyi*
“Orang Papua habis (genosida) karena :
1. Minum keras (miras)
2. Penyakit AIDS akibat hubungan seks bebas
3. Perang suku
4. Ditembak mati
5. Kawin campur antara Melanesia dan Melayu atau ras lainnya”
*Pendeta Dorman Wandikbo*
Pernyataan ini bukan tuduhan dangkal, bukan ujaran kebencian, dan bukan vonis biologis. Ia adalah seruan moral profetis—peringatan keras atas ancaman nyata terhadap keberlanjutan orang Papua sebagai manusia, keluarga, budaya, dan komunitas sejarah.
Bahasa yang digunakan memang keras, karena situasinya darurat. Yang dibicarakan bukan sekadar statistik kematian, melainkan hilangnya generasi secara perlahan. Di sinilah istilah genosida dipakai dalam makna yang lebih luas: genosida struktural, sosial, biologis, dan kultural—yang terjadi diam-diam, bertahap, dan saling berkaitan.
*Apa yang Dimaksud “Genosida” di Sini ?*
Genosida dalam konteks ini tidak selalu berupa pembantaian massal, tetapi mencakup :
1. enghancuran hidup secara perlahan,
2. Kematian usia produktif yang tinggi,
3. Terputusnya regenerasi,
4. Hilangnya identitas dan keberlanjutan budaya orang Papua.
Dengan kerangka ini, lima faktor yang disebutkan harus dibaca sebagai satu rangkaian krisis, bukan persoalan terpisah.
1. *Miras : Genosida Tanpa Senjata*
Minuman keras menjadi alat pemusnah paling senyap di Tanah Papua.
Dampaknya berlapis :
* Merusak tubuh (otak, hati, sistem saraf),
* Mematikan akal sehat dan kendali diri,
* Memicu kekerasan rumah tangga dan kriminalitas,
* Menghancurkan ekonomi keluarga,
* Memutus masa depan generasi muda.
Ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan genosida sosial—karena yang hancur bukan hanya individu, tetapi keluarga dan garis keturunan.
Lebih jauh, miras sering masuk melalui jaringan ekonomi gelap dan kelalaian negara. Ketika peredarannya dibiarkan, pembiaran itu sendiri berubah menjadi kekerasan struktural.
2. *HIV/AIDS & Seks Bebas: Genosida Biologis yang Sunyi*
Poin ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan membuka luka sosial yang nyata.
Masalah utamanya bukan semata moralitas, melainkan :
* Minim edukasi kesehatan reproduksi,
* Lemahnya layanan kesehatan,
* Dampak miras dan kekerasan seksual,
* Kemiskinan serta kerentanan perempuan dan anak.!
Akibatnya :
* Kematian usia produktif,
* Meningkatnya anak yatim,
* Terputusnya regenerasi biologis dan sosial.
Inilah genosida biologis yang sunyi : tidak terdengar seperti perang, tetapi dampaknya sama—hilangnya generasi.
3. *Perang Suku : Genosida Horizontal*
Perang suku adalah luka lama yang diperparah oleh modernitas tanpa pendampingan nilai.
Dampaknya :
* Korban jiwa dari sesama orang Papua,
* Siklus balas dendam turun-temurun,
* Trauma anak-anak,
* Hancurnya modal sosial dan persatuan.
Ironinya pahit :
_yang mati adalah saudara sendiri, yang hancur adalah kampung sendiri, yang menang—tidak ada._
Ini adalah genosida horizontal—Papua melukai Papua. Sering kali dipicu oleh miras, senjata modern, dan provokasi ekonomi-politik.
4. *Ditembak Mati : Kekerasan Bersenjata & Ketakutan Kolektif*
Poin ini menyentuh dimensi struktural dan politik.
Realitas pahitnya :
* Warga sipil kerap menjadi korban konflik bersenjata,
* Banyak kematian tanpa proses hukum yang adil,
* Trauma kolektif diwariskan lintas generasi.
Ketika nyawa orang Papua murah di tanahnya sendiri, itu bukan hanya pelanggaran HAM, melainkan ancaman eksistensial._(+
Inilah bentuk gnosida melalui kekerasan negara dan konflik bersenjata.
5. *Kawin Campur : Genosida Kultural & Demografis (Bukan Rasial)*
Ini adalah poin paling sensitif dan harus dibaca sangat hati-hati.
Pernyataan ini bukan :
* Kebencian terhadap ras lain,
* Larangan cinta atau perkawinan,
* Penolakan nilai kemanusiaan universal.
Yang disuarakan adalah kekhawatiran demografis dan kultural, yaitu :
* Anak dari kawin campur sering kehilangan bahasa, tanah adat, dan identitas OAP,
* Migrasi besar + kematian tinggi OAP + kawin campur,
* Dalam jangka panjang orang Papua menjadi minoritas di tanahnya sendiri.
Orang Papua tidak “dibunuh”, tetapi dilenyapkan secara identitas dan keberlanjutan budaya._
Inilah yang disebut genosida kultural dan demografis, bukan genosida rasial.
*Benang Merak+h : Lingkaran Kehancuran*
Kelima faktor ini saling terhubung :
* iras → seks berisiko → AIDS,
* Miras → perang suku,
* Konflik → penembakan,
* Kematian tinggi + migrasi + kawin campur → hilangnya generasi dan identitas.
_Papua tidak habis karena satu sebab, tetapi karena banyak luka yang dibiarkan terbuka sekaligus._
*Seruan Moral & Jalan Keluar*
Pernyataan ini adalah panggilan pertobatan kolektif :
**Gereja*
Menjadi suara profetik, membumi dalam pendidikan iman, dan pendampingan keluarga serta pemuda.
*Negara*
Menghentikan miras secara nyata, memperkuat layanan HIV/AIDS, menjalankan pendekatan keamanan berbasis kemanusiaan, dan menegakkan hukum yang adil.
*Orang Papua Sendiri*
Menjaga hidup sebagai anugerah Tuhan, menghentikan kekerasan horizontal, dan merawat persaudaraan serta masa depan generasi.
*Penutup*
Pernyataan Pendeta Dorman Wandikbo keras karena realitasnya keras.
Ia bukan untuk menyalahkan, melainkan membangunkan nurani.
_Papua tidak boleh habis._
_Papua harus hidup—sebagai manusia, budaya, dan generasi._
_Bukan habis pelan-pelan._




0 komentar:
Posting Komentar