Kabid P2MK: Pemda Dogiyai Tak Peduli Penyakit HIV/AIDS - Suara Wiyaimana Papua
Headlines News :
Home » , , » Kabid P2MK: Pemda Dogiyai Tak Peduli Penyakit HIV/AIDS

Kabid P2MK: Pemda Dogiyai Tak Peduli Penyakit HIV/AIDS

Written By Suara Wiyaimana Papua on Selasa, 28 Juli 2015 | Selasa, Juli 28, 2015

Kepala Bidang Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat dan kecamatan (P2MK) Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai Kristianus Tebai. Foto: tabloidjubi.com

Nabire, MAJALAH SELANGKAH -- Kepala Bidang Pengembangan Pemberdayaa Nabire, MAJALAH SELANGKAH -- Kepala Bidang Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat dan kecamatan (P2MK) Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai Kristianus Tebai mengatakan, sejak pemekaran Kabupaten Dogiyai Tahun 2008 sampai saat ini, pemerintah Kabupaten Dogiyai tidak pernah peduli dengan penyebaran penyakit menular dan mematikan, Human Immuno deficiency Virus(HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). 

"Penyakit HIV/AIDS ini sangat mematikan, menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Dogiyai rentan penyakit ini, sayang, tidak ada rencana kerja dari pemerintah," kata Tebai kepada majalahselangkah.com,Senin(27/07/2015) melalui telepon seluler dari Dogiyai.

Tebai mengaku, sejak percayakan menjabat sebagai Kabid P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai Tahun 2013 silam,  upaya penanggulangan HIV/AIDS, TBC dan malaria, IMS, Diare, Ispa, Cacingan dan penyakit tidak menular (PTM) lainnya seperti, kolesterol, reumatik, hipertensi dan lain-lain tidak pernah di akomodir dalam RAPBD dan Otsus. 

"Padahal penanggulangan penyakit di atas merupakan kegiatan utama dan prioritas, apalagi daerah Dogiyai merupakan daerah endemis penyakit yang berpotensi wabah," jelas Tebai.

Menurutnya, setiap perencanaan program tahunan dari Dinas kesehatan, hanya sekelompok orang saja yang terlibat tanpa melibatkan kepala seksi dan kepala bidang yang ada di dinas kesehatan dalam hal perencanaan program.

Untuk itu kami berharap sebelum membuat perencanaan harus melibatkan semua kepala seksi maupun bidang agar bisa memasukkan kegiatan kegiatan mana yang paling urgen dan prioritas, mana yang di dahulukan dan diutamakan, bukan copy paste program dari daerah lain,katanya.

Kalau selalu begini terus daerah tidak akan maju, kata, Tebai  penyakit terus meningkat,kematian terus meningkat, populasi pertembuhan penduduk di pelosok dogiyai semakin depopulasi dan kita tidak bisa mewujudkan millennium development goal di bidang kesehatan serta tidak meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dogiyai yang bertabat dan berkeadilan.

Menurut tebai, saat ini, kemajuan dari Dinas Kesehatan Dogiyai adalah menjadikan dua rumah sakit dapat memeriksa HIV/AIDS tanpa dirujuk ke rumah sakit di kabupaten lain.

Ke depan, pemeriksaan HIV dari dua Puskesmas (Puskesmas Moanemani dan Bomomani) tidak lagi dirujuk ke RSUD Paniai atau RSUD Nabire, dengan demikian kita bisa mengefisiensi dana, tenaga dan pasien ODHA tidak lagi putus hubungan dengan obat atau adhernce dengan obat ARV ataupun obat obat infeksi lainnya, ujur Tebai. 

Sementara pengelola program HIV/AIDS di Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai sejak Tahun 2013, Isak Waine, mengaku tak bisa buat apa-apa akibat tak ada alokasi dana untuk pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya alam dinas kesehatan Dogiyai.

"Kami perna buat POA (Planing Of Action) untuk Program HIV/AIDS dan kami ajukan ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai Melalui Bidang dan di lanjutkan oleh Kabid P2MK/PL tetapi POA tersebut juga tidak di Akomodir oleh kepala Dinas Kesehatan sehingga kami hanya jadi penonton," tutur Waine.

"Coba, kita buat gerakan penyelamatan manusia Mee dari ancaman virus mematikan (HIV/AIDS) yang hingga kini belum ada obatnya ini," lanjut Waine.


Menurut Waine, Dinas Kesehatan Dogiyai lebih memberikan kepercayaan kepada LSM Yapkema untuk penanggulangan HIV/AIDS dibanding unit-unit dalam tubuh dinas kesehatan sendiri. Waine menilai, YSM Yapkema tidak serius menangani HIV/AIDS di Dogiyai.

"Kami juga minta kepala dinas Kesehatan bersama YSM Yapkema terbuka diri dalam program penanggulan HIV, tanyakan kepada kami penanggungjawab bidang ini di dinas kesehatan, keluhan, hambatan dan program prioritas apa yang mau dilakukan dari dinas, bukan lompat pagar memonopoli tugas dinas kesehatan, kalau sudah begini bagimana kami dari dinas kesehatan mau memonitoring dan evaluasi ke layanan VCT di unit layanan," tutur Waine.

Ini karena, menurut Waine, sejak dini, penyebaran HIV/AIDS di Dogiyai harus diberantas, tak peduli kemacetan pembangunan di hampir semua sektor lain di kabupaten Dogiyai.

Kami berharap ada kerja sama dan meningkatkan kerja sama yang lebih baik di tingkat pemerintah kabupaten, kepala dinas Kesehatan, YSM, dan pemerintah provinsi  dan LSM dalam rangka support kegiatan penangulangan HIV AIDS di kabupaten Dogiyai, harap Waine. (Yohanes Kuayo/MS)n Masyarakat dan kecamatan (P2MK) Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai Kristianus Tebai mengatakan, sejak pemekaran Kabupaten Dogiyai Tahun 2008 sampai saat ini, pemerintah Kabupaten Dogiyai tidak pernah peduli dengan penyebaran penyakit menular dan mematikan, Human Immuno deficiency Virus(HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

"Penyakit HIV/AIDS ini sangat mematikan, menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Dogiyai rentan penyakit ini, sayang, tidak ada rencana kerja dari pemerintah," kata Tebai kepada majalahselangkah.com,Senin(27/07/2015) melalui telepon seluler dari Dogiyai.

Tebai mengaku, sejak percayakan menjabat sebagai Kabid P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai Tahun 2013 silam,  upaya penanggulangan HIV/AIDS, TBC dan malaria, IMS, Diare, Ispa, Cacingan dan penyakit tidak menular (PTM) lainnya seperti, kolesterol, reumatik, hipertensi dan lain-lain tidak pernah di akomodir dalam RAPBD dan Otsus.

"Padahal penanggulangan penyakit di atas merupakan kegiatan utama dan prioritas, apalagi daerah Dogiyai merupakan daerah endemis penyakit yang berpotensi wabah," jelas Tebai.

Menurutnya, setiap perencanaan program tahunan dari Dinas kesehatan, hanya sekelompok orang saja yang terlibat tanpa melibatkan kepala seksi dan kepala bidang yang ada di dinas kesehatan dalam hal perencanaan program.

Untuk itu kami berharap sebelum membuat perencanaan harus melibatkan semua kepala seksi maupun bidang agar bisa memasukkan kegiatan kegiatan mana yang paling urgen dan prioritas, mana yang di dahulukan dan diutamakan, bukan copy paste program dari daerah lain,katanya.

Kalau selalu begini terus daerah tidak akan maju, kata, Tebai  penyakit terus meningkat,kematian terus meningkat, populasi pertembuhan penduduk di pelosok dogiyai semakin depopulasi dan kita tidak bisa mewujudkan millennium development goal di bidang kesehatan serta tidak meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dogiyai yang bertabat dan berkeadilan.

Menurut tebai, saat ini, kemajuan dari Dinas Kesehatan Dogiyai adalah menjadikan dua rumah sakit dapat memeriksa HIV/AIDS tanpa dirujuk ke rumah sakit di kabupaten lain.

Ke depan, pemeriksaan HIV dari dua Puskesmas (Puskesmas Moanemani dan Bomomani) tidak lagi dirujuk ke RSUD Paniai atau RSUD Nabire, dengan demikian kita bisa mengefisiensi dana, tenaga dan pasien ODHA tidak lagi putus hubungan dengan obat atau adhernce dengan obat ARV ataupun obat obat infeksi lainnya, ujur Tebai.

Sementara pengelola program HIV/AIDS di Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai sejak Tahun 2013, Isak Waine, mengaku tak bisa buat apa-apa akibat tak ada alokasi dana untuk pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya alam dinas kesehatan Dogiyai.

"Kami perna buat POA (Planing Of Action) untuk Program HIV/AIDS dan kami ajukan ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai Melalui Bidang dan di lanjutkan oleh Kabid P2MK/PL tetapi POA tersebut juga tidak di Akomodir oleh kepala Dinas Kesehatan sehingga kami hanya jadi penonton," tutur Waine.

"Coba, kita buat gerakan penyelamatan manusia Mee dari ancaman virus mematikan (HIV/AIDS) yang hingga kini belum ada obatnya ini," lanjut Waine.

Menurut Waine, Dinas Kesehatan Dogiyai lebih memberikan kepercayaan kepada LSM Yapkema untuk penanggulangan HIV/AIDS dibanding unit-unit dalam tubuh dinas kesehatan sendiri. Waine menilai, YSM Yapkema tidak serius menangani HIV/AIDS di Dogiyai.

"Kami juga minta kepala dinas Kesehatan bersama YSM Yapkema terbuka diri dalam program penanggulan HIV, tanyakan kepada kami penanggungjawab bidang ini di dinas kesehatan, keluhan, hambatan dan program prioritas apa yang mau dilakukan dari dinas, bukan lompat pagar memonopoli tugas dinas kesehatan, kalau sudah begini bagimana kami dari dinas kesehatan mau memonitoring dan evaluasi ke layanan VCT di unit layanan," tutur Waine.

Ini karena, menurut Waine, sejak dini, penyebaran HIV/AIDS di Dogiyai harus diberantas, tak peduli kemacetan pembangunan di hampir semua sektor lain di kabupaten Dogiyai.

Kami berharap ada kerja sama dan meningkatkan kerja sama yang lebih baik di tingkat pemerintah kabupaten, kepala dinas Kesehatan, YSM, dan pemerintah provinsi  dan LSM dalam rangka support kegiatan penangulangan HIV AIDS di kabupaten Dogiyai, harap Waine. (Yohanes Kuayo/MS)

Share this article :

0 komentar:

.

.

MELANESIANS IN WEST PAPUA

MELANESIANS IN WEST PAPUA

GOD'S WORD DAILY DEVOTIONAL

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

BIARKAN SENDIRI BERKIBAR

GOOGLE FOLLOWER

Traslate By Your Language

WEST PAPUA FREEDOM FIGHTER

WEST PAPUA

WEST PAPUA

VISITORS

Flag Counter
 
Support : WEST PAPUA | WEDAUMA | SUARA WIYAIMANA
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014. Suara Wiyaimana Papua - All Rights Reserved
Template Design by WIYAIPAI Published by SUARA WIYAIMANA